Antara Marah dan Benci

“Buat apa ngerasa ga suka sama orang, adanya cuma bikin kita sakit hati kan? Mending cuekin aja, terserah orangnya ngomong apa, yang penting kita ga buat salah apa-apa sama orang lain.

Si Om Genit”

Sudah tak asing lagi kan dengan istilah “Om Genit”?? Itu lho panggilan sayang dari Nona Bau Bau untuk si kekasih hati, asyeeekk *romantis euy. Hehe :D. Dan quote diatas adalah salah satu nasehat yang disampaikan oleh Om Genit ke Amel (ya iyalah bukan ke saya) ketika Amel sedang kesal. Bagi yang pengen membaca ulang pesan sayang dari Om Genit, silahkan baca lagi postingan Amel yang berjudul Mencoba Tidak Membenci Orang Lain.

Kalau menurut sahabat, apakah sama antara benci dengan marah?? Setelah saya searching di mbah google, saya mendapatkan bahwa definisi dari benci dan marah itu hampir sama. Semuanya tentang perasaan tidak suka, jengkel dan lain sebagainya. Tapi kalo menurut saya sendiri, benci dan marah itu berbeda. Benci merupakan bagian dari marah, sedangkan marah belum tentu menjadi benci. Karena benci itu waktunya bisa bertahun-tahun, sedangkan marah kadang hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Semua setuju kan?? Alhamdulillah *tenkyu tenkyu* ;)

benciSaya termasuk orang yang gampang marah / kesal (anggap saja marah dan kesal itu sama), karena saya termasuk orang yang moody. Hidup dengan sifat moody seperti saya kadang sangatlah menganggu, karena saya sendiri tidak bisa meyakinkan diri saya apakah 15 menit kemudian saya masih bisa dengan mood saya yang sedang happy. Tidak butuh ada kejadian besar untuk mengacaukan mood saya, kejadian sepele saja bisa langsung membuat saya kesal mendadak dan mengacaukan mood saya seharian. Ya itulah dukanya menjadi orang dengan tipe moody, bersyukurlah sahabat yang tidak mempunyai nasib yang sama seperti saya.

Tapi meskipun mood saya mudah berubah, saya sering marah, tapi alhamdulillah saya tidak termasuk orang yang mudah membenci orang lain. Ketika saya kelas 5 SD (kalau nggak salah), itu adalah saat pertama kali saya membenci orang lain. Saya membenci dia yang sudah mengacaukan hidup saya, saya membenci dia bertahun-tahun, bahkan hingga akhirnya saya harus menerima dia sebagai bagian dari saya. Setiap saya melihat dia, ada sebuah kemarahan yang selalu meluap di hati saya, benci saya benar-benar luar biasa hebat #lebay. Dan untungnya, selama saya hidup saya hanya mempunyai 2 orang yang saya benci. Tapi semakin berjalannya waktu, semakin saya bisa memahami diri saya sendiri, semakin saya percaya kalau Dia selalu ada di hati saya, saya mulai bisa mengendalikan emosi saya. Saya sudah tidak membenci mereka lagi, saya sudah bisa menatap mereka dengan perasaan yang datar, meskipun saya masih belum bisa memaafkan atas perlakuan mereka ke saya. Sudahlah tak usah dibahas lagi, kalo kata bung Roma sih yang lalu biarlah berlalu. ;)

Dulu saya orangnya sangat perasa, mungkin itulah kenapa dulu saya sering marah dengan orang-orang disekitar saya (cuma marah, tidak sampai membenci). Dan setelah saya memutuskan untuk berubah, maka saya pun mulai belajar dari pengalaman-pengalaman saya. Seperti yang Amel sebutkan dalam postingannya, saya pun melakukan hal yang sama supaya saya bisa meminimalisir rasa kesal saya. Saya berusaha untuk tidak memandang hanya dari sisi saya sendiri, tapi berusaha melihatnya dari sisi dia yang sudah membuat saya kesal, saya mencari alasan kenapa dia sampai membuat saya kesal. Dan pada saat itulah saya akan berusaha meyakinkan diri saya bahwa rasa kesal yang sedang saya rasakan tidak boleh berkembang menjadi benci, sambil mengingat lagi hal-hal baik yang pernah orang tersebut berikan ke saya. Langkah terakhir ketika saya sudah berdamai dengan perasaan saya, adalah dengan keluarnya sifat cuek saya. Saya akan berusaha untuk tidak terjadi apa-apa selama beberapa hari kedepan, dan kemudian akan mencoba bersikap normal lagi ke orang tersebut. Alhamdulillah, selama pokok masalahnya ringan, saya selalu berhasil menahan ego saya. Dan itu berarti cukup 2 orang saja yang pernah saya benci selama hidup saya #bangga :D

Tidak ada manusia yang tidak pernah marah, karena marah adalah salah satu sifat yang memang ada di dalam diri manusia. Sebuah fitrah mungkin, asalkan kita bisa mengatur rasa marah kita. Marah untuk kebaikan boleh, marah karena ada sebab pun wajar, yang tidak boleh adalah marah tanpa alasan. Ngapain juga capek-capek kita menyiksa diri kita sendiri hanya untuk sebuah rasa marah yang kita tidak tahu apa sebabnya. Nggak mungkin juga kan ada orang yang bilang, “saya kangen pengen marah”?? Nah jadi sebelum kalian marah, pastikan ada alasan kenapa kalian harus marah. Dan ingat, marah sewajarnya saja, jangan sampai berubah menjadi benci. Owkeh sob?!

“Tulisan ini diikutkan Giveaway Suka-suka Dunia Pagi

*91’91*

137 thoughts on “Antara Marah dan Benci

  1. di paragrap 4 mengatakan ada kebencian yg dari kelas 5 sd yg sampai sekarang begitu membekasnya itukan sdh sgt lamanya,,ups tunggu dulu ,, umur kamu berapa nih ya..,,salam sahabat–diluar topik(sy lihat kamu byk ikut ngontes,,kalao berkenan ikutan juga di blog saya)

  2. Hmmm..baca dari atas sudah bisa ditebak nih pasti ngontes lagi hehehe, marah sih boleh saja asal tau temptnya Kak Dhe..

    Semoga sukses diacaranya Mbak Amel Kak..

  3. marah kadang diperlukan juga kok , Dhe
    asal jangan terlalu sering
    lebih baik energi kemarahan yg luar biasa itu disalurkan pd hal yg lebih positif, ya gak sih ? :)

    bunda terakhir marah kapan yaaaa….. ??
    (sambil ngiget2)

    Semoga sukses di kontes ini ya Dhe ….
    salam

  4. begitulah. keduanya memang sangat diperlukan untuk menyesuaikan keadaan. Apalagi kalau mengalami kejadian-kejadian yang kurang mengenakkan.
    tapi justru kemampuan itulah yang selanjutnya digunakan untuk menghargai diri kita sendiri. (opsss… ini artikel kontes ya??? maaf deh kalau sok nggurui. xixixi)

  5. menurutku sih marah itu beda sama benci

    marah itu cenderung reaktif karena hilangnya kontrol diri, kalau benci itu bisa dilakukan secara sadar bahkan ketika orang sedang tidak marah, bila pengin tahu lebih jelas tentang marah dan benci, coba baca buku Emotional Intellegence, yang ditulis oleh Daniel Goleman. Buku itu menjelaskan dengan lengkap :)

    salam

  6. marah ke anak…??
    sebenarnya sdh nahan biar g marah….karena setelah marah pasti ada rasa sesal
    apalagi pas lihat mereka tidur, sampe mewek kalo inget kejadian itu…
    semoga emak bisa sabar y nak….

  7. Ok Dhe, ok…kita kadang perlu marah agar tidak memendam benci. Tapi jangan lama-lama ;)
    Menurut saya, marah yang berlarut-larut dan didiamkan itu yang bisa berubah jadi rasa benci…

  8. sifat amarh/benci/kesal sebaiknya cepat cepat di tinggalkan sob, coz akan membuat dampak buruk bagi kita sendiri. jangan juga di pendem pendem sob, kalau benci luapkan saja kebenciannya jgn sampe selama itu :D ane untungnya tidak moody :)

  9. saya juga orangnya moody, juga pernah mengalami kebencian terhadap seseorang selama bertahun-tahun

    nasehatku, jangan terlalu dipikirkan rasa benci itu, masih banyak hal yang dapat kita pikirkan demi kebaikan kita

  10. akhir-akhir ini banyak juga blogger yg buat kontes ya.
    back to topik > apakah sama antara benci dengan marah??
    kalau marah, range waktunya tidak selama dengan perasaan benci. itu menurut saya, bisa aja menurut orang lain berbeda. :D

  11. Kalo saya nggak pernah tuh membenci orang..

    *Jiaahh bo’ong bgt :p*

    dulu saya juga mudah banget buat marah, tapi sekarang udah nggak lagi.. n sekarang saya jadi mudah senyum.. Hemm heemm heemmm :D :-P

  12. Setuju sekali! Nggak ada gunanya memelihara rasa marah (apalagi benci); karena itu hanya akan merugikan diri sendiri saja. Rasa marah (atau benci) yang dipelihara kan “memakan” kepositifan yang kita miliki. *jiah, sok serius nih ceritanya :P*

  13. Wuih keren si dhe udah ikut dua kategory
    Bicara masalah marah, saya rasa marah itu wajar namanya juga manusia. Kalo saya marah biasanya langsung diem.

  14. selama dunia ini berputar….marah dan benci spt halnya siang dan malam akan terus menemani anak Adam kemana saja dia berjalan….dan yg terpenting buat kita mampukah kita meredamnya sesuai dgn tuntunan agama kita.
    sukses ya ngontesnya :-)

  15. menurutku marah beda sama benci… karena benci itu udah ngerusak hati…
    tapi marah, marah yg sehat maksudnya, baik buat hati karena mengeluarkan uneg2… abis itu kan baek lagi… hehehe…

    maaf Dhe, aku lg jarang BeWe, jangan dimarahi ya Dhe… heheh…

    semoga sukses kontesnya ;-)

  16. Hmm,,,, apa yach??
    Oiya.. marah emang sifat Manusiawi BGT, setiap Kita sesekali pernah Marah…
    Marah bole2 aja kok.. selama gak semena2 sampai Brutal Arogan Anarkis gitu..
    Waah…Waaah… yg penting jangan bikin Benci aja…Bahaya!!!
    Hwehehee…
    SEMANGAAT ikutan Give Awaynya yach!!!
    Chayyo…

  17. Dan aku marah sekaligus benci tujuh turunan sama orang yang memfitnah aku *merebut suami orang* temen aku sendiri dhe..hiks..,

    jelas suatu hal yang tak pernah aku lakukan,kenal ama suaminya aja kagak..
    Gimana ga marah coba dhe..kesel..

    Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan..
    Pedih Jenderal..sakiit..!!

    Aku hanya bisa mendoakannya semoga di sholehkan hatinya..

  18. Antara marah dan benci??? hemm… postingan yang menarik kak,,. hehehehe saya sendiri pernah marah juga benci.., Tapi benci saya bukan karena ulah saya, melainkan dia yang memulai membeci saya hingga dia berusaha memberika kenangan yang suram. Karena itu aku berharan Allah akan membalas rasa sakin saya dikemudian hari didalam hidupnya hinnga dia tidak akan menyakitti orang lain lagi seperti dia menyakiti say.. hehei jadi curcol ( curhat colongan) :D

  19. Waahh baru tahu si om genit itu pacarnya Amel,, hehehehe…

    Setuju dhe, benci dan marah itu beda. sama kayak kita ke keluarga kadang kan bisa marah juga, tapi ya gak membenci..

    • Iya mbak yu, gmana nih si Dhe, tugas PRnya belom diselesai’in.. Huuu.. ;-)
      Saya juga udah ngerjain lho Dhe, tinggal kamu doank kayaknya Huhuu..
      kan udah mau dikumpulin.. Huhuhu.. Ntar buguru marah lho.. huhuu #Plakks :-P

  20. Kalo marah menurut saya lebih banyak kesisi kepedulian kita terhadap sesuatu atau seseorang hanya saja pengungkapannya agak keras dan terkesan galak…setuju soal marah adalah sifat alami kita sebagai manusia

  21. eitss…paragraf ketiga kalimat terakhir coba dicermati mbak
    “bersyukurlah sahabat yang tidak mempunyai nasib yang sama seperti saya.”
    menasehati orang lain untuk bersyukur, tapi kita sendiri gak bersyukur, hehe
    *mari instropeksi diri

  22. aku juga org nya moody an dhe..
    tp tak apa,, dengan begitu kita punya karakter sendiri…apa pun yg ada pd diri kita, kita syukuri ajah..yg penting tdk berlebihan dan tdk merugikan org lain..
    semoga sukses dpt give dr amel ^^

  23. Pingback: Detik-detik penutupan GA Suka-suka « Dunia Pagi

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s