Leukimia Membawanya Pergi

Sore itu setelah Wiwit dirawat di Rumah Sakit selama 1 minggu, saya baru bisa mengunjunginya. Sekitar pukul 4 sore, akhirnya saya berhasil melihat lagi senyumnya yang sudah lama menghilang dari pandangan mata saya. Wajahnya pun masih sama, meskipun terlihat ceria tapi masih saja pucat.

Wiwit tak berubah, hanya saja tubuhnya terlihat lebih kurus sore itu. Rambutnya yang ikal pun masih dibiarkan saja terurai, cantik. Kami bersalaman seperti biasa ketika saya baru masuk ke kamarnya. Tapi saat itu tangannya dingin, dan dinginnya itu pun membuat Wiwit sedikit terlihat aneh dengan wajahnya yang memang sudah sering terlihat pucat. Pikiran aneh yang sempat melintas pun saya buang jauh-jauh, saya berbaik sangka kalau mungkin itu hanya pengaruh dari AC di dalam ruangan kamarnya.

Tak butuh waktu lama, kami pun langsung mulai bercerita. Wiwit dan ibundanya pun mulai bercerita banyak hal. Tentang Rumah Sakit yang katanya membosankan, tentang kunjungan temen-temen sekolah Wiwit, juga tentang tingkah-tingkah aneh pasien yang satu kamar dengan Wiwit. Oya, sore itu Wiwit juga sempat cerita kalau pada siangnya ada tetangganya yang meninggal. Dia pun sempat shock, ketakutan dan akhirnya beberapa menit pingsan. Dia bercerita dengan sangat serius, tapi pada akhirnya dia menunjukkan senyum lega kepada saya. Bahkan dia pun akhirnya bilang, “Alhamdulillah, bukan aku yang ninggal Dhe”. Saya yang memang tak punya firasat apa-apa, hanya menganggap wajar kalau Wiwit sempat shock ketika tetangganya sesama pasien meninggal.

Dan kabar bahagia yang saya dapat sore itu adalah bahwa ternyata beberapa jam sebelum saya datang menjenguk, dokter sudah membolehkan Wiwit pulang. Dan ketika Wiwit mengabarkan kabar bahagia ini, dia benar-benar terlihat sangat bahagia. Bahkan dia pun sudah merencanakan untuk langsung sekolah kembali, setelah 1 hari kepulangannya besok. Dan ketika saya ada disana, dia sempat menelpon mbak Ratna dirumah, meminta untuk menyiapkan baju seragamnya.

Wiwit adalah sahabat saya sejak MTs, sahabat pertama yang bisa mengerti perasaan saya ketika orang lain tak ada yang bisa mengerti. Gadis baik, lembut, feminim, cengeng tapi selalu ceria. Ya, itulah Wiwit. Sejak MTs dia memang sering sakit, wajahnya pun sering terlihat pucat. Tapi dia jarang mengeluh sakit, dia selalu saja bersikap bahagia dan seolah dia adalah gadis yang paling sehat.

Tapi sejak SMA kami pisah, karena kami tak satu sekolah lagi. Persahabatan kami pun masih terjalin erat, kami masih saling kunjung, masih saling berbagi rasa dan asa bertiga. Saya, Wiwit dan Eka. Meskipun komunikasi kami tak sesering dulu, tapi saya selalu mendapatkan kabar terbaru dari dia. Saya tahu kalau sejak SMA dia sering sekali mendadak pingsan, dan bahkan sudah pernah beberapa kali keluar masuk Rumah Sakit. Dia selalu bilang kalau dia tidak apa-apa, karena memang dia sendiri pun tak tahu penyakit apa yang sedang ada didalam tubuhnya.

Pertemuan singkat sore itu membuat saya cukup bahagia. Saya lega, karena akhirnya saya sendiri bisa memastikan bahwa sahabat saya sudah sehat, sudah baik. Dan sesaat sebelum saya pulang, saya masih sempat menasehatinya.

“Jaga kesehatan!! Kalo mendadak kamu drop lagi, ntar dokter nggak jadi nyuruh pulang lho,”

“Pokoknya besok aku mau pulang Dhe. Kalo drop lagi, ya dirawat dirumah aja.”

=========================

Rabu, 15 November 2006 – 04:15 WIB

Pagi itu, alunan musik dari ponsel yang ada disebelah kepala saya mendadak membangunkan saya dari tidur. Saya lihat di layar ponsel saya, ternyata dari kak Man. Agak kaget juga, kenapa mendadak kakak saya menelpon saya pagi-pagi buta seperti itu.

“Hallo,” suara pertama saya pun berhasil keluar di tengah mata saya yang masih setengah terpejam.

Hening untuk beberapa saat. Dan sebelum akhirnya saya bablas ketiduran lagi, kak Man pun mengeluarkan suara.

“Dek,,,” kakak saya memutuskan suaranya, ketika dia berhasil memanggil saya.

Saya hanya diam, bersabar menunggu kelanjutannya sambil bangun dari posisi tidur.

Wiwit ninggal dek.”

Deg!! Percaya atau tidak, tapi saat itu saya merasa kalu jantung saya berhenti berdetak. Saya diam, seolah tubuh saya langsung lemas tak bersuara.

“Serius??” dengan masih tak percaya, saya pun kembali bertanya.

“Iya. Adek yang sabar ya. Malam tadi jam 2 Wiwit ninggal. Kakaknya Wiwit barusan ngehubungin kakak ………”

Dan seketika, tangis saya pun tumpah. Tak sanggup lagi saya mendengar lebih banyak dari suara kakak saya. Saya tahu kalau kakak saya tak mungkin berbohong, itulah kenapa saya benar-benar langsung merasa sangat terpukul. Sesaat semua terasa seperti hampa, kosong. Tak saya hiraukan lagi suara kakak saya yang masih memanggil saya. Saya pun  hanya menangis, semua air mata yang saya punya pun seolah tumpah malam itu. Mengalir begitu saja, hingga saya melampiaskan kesedihan saya malam itu.

Sekitar 15 menit saya hanya berdiam diri sambil terus menangis. Ibu saya akhirnya membuka pintu kamar saya, mungkin karena beliau mendengar suara tangisan saya. Saya hanya menatapnya sebentar dan kemudian bilang, “Wiwit ninggal”. Lalu kemudian ibu saya pun menutup lagi pintu kamar saya, membiarkan saya sendiri menuntaskan rasa sedih saya.

Sakiiiiiiiiiittt sekali rasanya. Seolah seperti ada sesuatu yang menohok dada saya, dan terus menerus membuat saya merasa sakit hingga saya sulit berhenti menangis. Esok paginya, saya pun langsung bersiap diri ke rumah Wiwit. Orang tua saya pun paham meskipun saya hanya berdiam diri sejak kejadian itu, dan langsung membuatkan surat izin ke sekolah saya.

Pelan-pelan, saya mengemudikan motor saya sambil sesekali menyeka air mata saya yang jatuh. Begitu sampai, tubuh saya langsung merinding ketika saya melihat rumahnya yang sudah sangat ramai. Seolah baru sadar kalau ternyata sahabat baik saya meninggal, tangis saya pun kembali deras. Sambil berjalan pelan memasuki rumahnya, saya melihat mbak Ratna tengah menangis sambil bersandar di pundak cowoknya. Saya masuk, dan orang yang pertama saya lihat adalah ibunda Wiwit. Beliau memandang saya sendu, air matanya sudah cukup menjelaskan bahwa dia sedang dalam keadaan sangat berduka. Tubuhnya sedang memeluk Tari, adiknya Wiwit. Pemandangan yang cukup mengiris hati saya.

Belum sempat saya melangkah lebih jauh ke dalam. Mendadak Eka langsung datang memeluk saya. Tak ada suara untuk saling menguatkan, bahkan saat itu saya pun tak punya daya untuk membalas pelukannya. Saya biarkan dia puas memeluk saya, kami hanya berusaha untuk saling memahami lewat tangis yang kami keluarkan. Eka pun menuntun saya masuk, dan orang-orang yang ada di dalam ruangan seolah mengerti dan langsung memberi saya jalan untuk bisa berada di depan.

Kaki saya lemas, bahkan tubuh saya pun hampir jatuh ketika saya sudah berada di depan tubuh Wiwit. Tangis yang keluar pun membuat pandangan saya sedikit kabur. Tapi saya bisa melihat kalau jasad yang ada di depan saya benar-benar Wiwit, sahabat saya. Tubuhnya terbujur kaku, masih terlihat pucat seperti kemaren ketika saya menjenguknya. Tapi pagi itu, pagi itu Wiwit terlihat lebih anggun. Dia seperti sedang tengah tertidur, bahkan mungkin dia sedang bermimpi indah. Ada seulas senyum yang samar terlihat dari wajahnya, senyum bahagia, senyum syukur. Ya, mungkin saat itu dia merasa lega kalau dia sudah terbebas dari penyakit yang dia derita selama ini.

Eka mencoba memberikan kekuatan kepada saya, tangan kami masih trus saling menggenggam. Ingin sekali saat itu saya bisa menciumnya, merasakan harum tubuhnya untuk terakhir kali. Tapi saya tak bisa. Tangis yang tak bisa saya hentikan, membuat saya tak bisa menciumnya. Saya hanya bisa terus memandangnya dari dekat, hanya bisa sebentar memegang tangannya.

Proses pemakaman pun dimulai. Saya melihat dia yang hanya diam ketika keluarganya tengah memandikannya, melihat dia akhirnya dishalatkan secara berjama’ah oleh masyarakat disekitarnya, melihat dia ditandu beramai-ramai, dan saya pun melihat ketika akhirnya tanah benar-benar menguburnya dalam liang lahat. Kalian tahu rasanya?? Sakit, sangat sakit. Meskipun saya tahu bahwa kelak saya pun akan menyusul, tapi saat itu saya sangat merasa kehilangan.

Sepulang dari rumah Wiwit, setelah akhirnya ibunda Wiwit memeluk saya, saya menguatkan diri saya untuk lebih tegar. Tapi ternyata sulit, sangat sulit. Bahkan ketika saya dirumah, ketika saya sudah tak lagi menangis. Saya mendengar kalau ada yang tengah membicarakan Wiwit, tangis saya langsung pecah lagi. Cengeng?? Memang!! Saya akui kalo saya sangat cengeng saat itu, kepergian Wiwit benar-benar membuat saya merasakan duka yang teramat sangat.

Wiwit dan Eka adalah sahabat perempuan pertama yang saya punya, mereka sahabat dekat saya. Saya pun dekat dengan keluarga mereka, begitu juga sebaliknya. Dan kejadian itu, adalah kali pertama saya kehilangan orang terdekat saya. Apalagi sore sebelum kejadian, saya masih ngobrol dan tertawa bersama dengan Wiwit. Kejadian yang cukup mendadak, dan saya belum siap atas kenyataan yang menyedihkan tersebut. Jadi wajar, kalau saat itu saya masih belum bisa mengendalikan emosi duka saya.

Sekitar 1 minggu setelah kematian Wiwit, saya baru tahu kalau ternyata selama ini Wiwit terkena Leukimia. Seringkali saya bersyukur, karena saat ini Wiwit sudah terbebas dari rasa sakit tersebut. Tak terbayangkan bagaimana kondisi dia kalau dia masih hidup, mungkin dia akan jauh lebih menderita. Tapi melihat senyum Wiwit pagi itu, saya percaya kalau kesabaran dia menghadapi penyakitnya telah membuat dosa-dosanya gugur. Semoga Allah memberikan tempat terindah untuknya, dan menghapus semua dosa-dosanya.

Wiwit Tresnani - 27 Mei 1991

Dan kini, lebih dari 5 tahun sudah Wiwit pergi, tapi semuanya masih terasa sama. Saya masih mengunjungi keluarganya ketika saya pulang ke Martapura. Ibunda Wiwit pun masih selalu memberikan saya pelukan manis ketika saya berjumpa dengan beliau, saling bertukar cerita tentang keluarga Wiwit yang semakin besar. Mbak Ratna yang sudah menikah dan sudah memberikan keponakan untuk Wiwit, adek-adeknya yang sudah tumbuh besar, semuanya. Saya memang bukan Wiwit, tapi setidaknya saya berharap kalau saya bisa menjadi pengobat rindu buat bapak dan ibunya Wiwit ketika mereka tengah berada bersama saya.

=========================

Sebenarnya sudah sangat lama saya ingin mengabadikan cerita ini di gamazoe, tapi saya selalu gagal dalam menuliskannya kembali. Tapi berkat trio kecebong yang sudah memberikan saya inspirasi dan semangat, akhirnya di hari ulang tahun saya kemarin saya berhasil menceritakan kisah ini kembali.

Cerita ini sangat panjang, memang. Karena pada dasarnya niat saya hanya ingin meyimpan cerita ini untuk diri saya sendiri. Tapi bagi sahabat yang sudah dengan sabar membaca cerita ini, terimakasih. Ada beberapa kejadian yang saya potong, rasa sedih dalam cerita ini pun saya buat seminimal mungkin, karena melalui cerita ini saya kembali belajar untuk menjadi lebih tegar. Tapi ternyata sulit, karena air mata saya masih sesekali jatuh ketika saya menuliskan nama sahabat saya.

Dan hmm, karena trio kecebong yang sudah memberikan saya semangat hingga saya mampu menuliskan cerita ini. Dan karena para emak-emak penyelenggara saweran tersebut sudah memaksa saya untuk ikut berpartisipasi. Maka setelah semedi selama 9 jam 1 menit, saya putuskan bahwa ……………….

Dhenok Habibie berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Nb : Kali ini saya hanya murni bercerita, mengenang kembali kenangan terakhir saya dengan sahabat baik saya. Tidak ada sama sekali unsur hikmah yang saya siapkan di cerita ini. Tapi kalau toh didalam tulisan ini ada hikmah yang bisa diambil, semoga hikmah tersebut membawa kebaikan untuk kita semua.

*91’91*

89 Responses to Leukimia Membawanya Pergi

  1. Dhe … hiks, terharu sayah bacanya … (serius). Senangnya punya sahabat sepertimu Dhe. Wiwit pun pasti bangga jadi sahabat masa kecil yg mampu mnyaksikanmu ikut tumbuh dewasa bersamanya, meski ia sudah pergi sebelum novel kalian selesai…^__^
    Miss u, dear…

  2. dan dhe berhasil merangkum kesedihan 5 tahun lalu dalam sebuah tulisan demi sebuah perhelatan manis ini..oh dhe..semoga engkau selalu menyayanginya juga keluarganya..al fatihah buat wiwit seorang..

  3. saya tahu rasanya… saya sudah beberapa kali kehilangan sahabat-sahabat terdekat… rasanya seperti ada bagian yang hilang dari diri kita…

  4. Jujur dibagian paragraf akhir saya merinding bacanya Dhe.
    Saya juga bingung hikmah apa yang saya dapat dari cerita ini.
    Namun yang pasti saya sadar kalo mati itu memang rencana Allah.
    Lha wong wiwit kemaren masih ngobrol bareng Dhe, eh keesokannya udah pergi untuk selamanya…

  5. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

    Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha..

    begitulah sahabat, meskipun jasadnya tak lagi bersama, tapi di hati ini, akan terus ada.
    semangat Dhe… :D

  6. duh sedih pasti ya mbak. meski udah lewat 5 tahun tapi masih berasa. dapet informasi telepon bahwa ada yang meninggal itu sakit banget emang. itu juga saya rasakan waktu beberapa bulan lalu kakak saya meninggal karena kecelakaan.

    ditinggal oleh orang terdekat memang pedih rasanya mbak. semoga tetap ikhlas dan sabar ya, amin..

    kecebong 3 warna tuh tentang sahabat gitu ya?

  7. Ah Dhe, sedih bacanya..

    Walaupun Wiwit sudah meninggal, kenangan tentang dia akan terus hidup di hati kamu dan semua orang yang mengenalnya, kan? ^_^

  8. ga bisa mbayangin klo sahabat sampai berpulang,
    wong klo marahan aja rasanya piye ngono :(

    eh ternyata 5tahun yang lalu banyak yang kehilangan ya, saya aja di tahun yg sama kehilangan adek dan mamak :(

    semoga sahabatmu tenang di sana ya Dhe!

  9. 3 tahun lalu juga sahabat saya dari smp dicengkram oleh penyakit yang bernama leukimia ini. pas tahun baru. . .
    dia niat ngumpulin kami semua pas tahun baru, sahabat-sahabatnya. Makan-makan sate bebek atau apalah yang penting dia mau ngumpul pas tahun baru. Itu katanya H-2 menjelang tahun baru di rumah sakit.
    Malam tahun baru tiba, dia benar-benar ngumpulin kami dhe. sahabat-sahabatnya dalam suasana yang berbeda tapi. Riuh tangis sanak saudaranya menemani malam tahun baru kami. . . walaupun petasan dan kembang api di luar sana begitu ribut, tak ada yang mengalahkan suasana waktu itu.
    Ahh.. kok saya malah cerita gini yah.

    Hmm Semoga almarhum mendapat tempat yang layak disisinya :)
    Teman yang baik yah dhe ini :)

  10. Memang cerita yang panjang. Tapi aku tidak melewatkan sehurufpun. Mak Cebong1 ikut berduka cita. Semoga doa-doa Dhe untuk Wiwit diijabah dan Dhe harus lebih tegar…

    Ok, terima kasih atas partisipasinya ya, Dhe. Sudah dicatat sebagai peserta di Buku Besar Keluarga Cebong.

  11. Saleum,
    ikut terharu baca ceritanya mbak de, walaupun sudah lima tahun berlalu akan tetapi kisah ini masih tetap hidup dihatimu. betul2 sahabat sejati…
    saleum dmilano

  12. Nice story dhe… persahabatan kalian sepanjang masa. indah adalaah ketika kamu memiliki orang-orang yang akan selalu mengingatmu sebagai hal termanis dalam hidupnya.

  13. Sahabat selamanya, semoga kepergiannya bisa menjadi pengingat buat kita bahwa semuanya pasti kembali kepada Nya.

    Sukses buat kontesnya.

    Salam.. .

  14. 1. Turut berduka cita sedalam2nya Dhe, sahabat baik, sulit dicari ganti jadi menurut ku adalah keputusan baik untuk mengabadikan kisah ini lewat tulisan.

    2. Banyak hikmah yang bisa kurekan, trims ya Dhe, aku makin sayang kamu, uuuuuuuuuuuuuuuuhh beneran.

    3. Dhe ternyata rajin menyambung silaturahim, kapam maen ke rumah?
    Perumnas-Pakjo gitu lhooo…

  15. Adoo yang lupoo, gudlak ya…

    #belum nulis kategori cerita sedih, terhambat derai hujan, tek hubungan kaleee yeee….

    #Dak mampir waktu lewat Martapuro, iyo yeee, maaf. Belah manonyo Dhe? Senin nak lewat lagi caknyo, kalu biso gek nak mampir, siapi duren yoo…

    #Sikok lagi
    Cerita ini panjang tapi empuk, walau tak ada rasa durian #kabuuurrrrrrrrrrr….

  16. Persahabatan dan kenangannya memang sulit untuk dilupakan. Meskipun dalam waktu yang lama, saat tertentu kenangan itu akan melintas begitu saja yang terkadang tanpa disadari menitikkan air mata

  17. Yang sabar uach sobat, semua itu sudah diatur oleh sang pencipta, jodoh, rejeki dan ajal sudah ada ketetapannya… kita hanya bisa bersabar dan menjadikan sebagai peringatan agar bisa memanfaatkan sisa hidup kita ini sobat…

  18. Hwaaaaaaaaaaa.. aku nagis bacanyaaaaa.. :( (
    gini ini katanya kesedihannya sudah di minimalisir??? Hasss… dasar aku aja yg cengeng kalo gitu mah. :p

  19. Membaca kisah ini, membawa saya pada ingatan akan beberapa teman/sahabat yg telah di panggil dulu oleh Ilahi Robb. Ketika tahun kemarin ada reuni SMA, ternyata beberapa teman sdh tak mgk lagi hadir karena maut sdh membawanya pergi dr kefanaan dunia ini. Ada yg karena gagal ginjal, kanker otak, kanker payudara dan juga karena kecelakaan maut….

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…akhirnya ini yg harus kembali saya ingat pd diri sendiri, any time kita bisa saja mendapat gilirannya utk kmbali padaNYA, semoga kapan pun itu kita dalam keadaan khusnul khatimah, amin

  20. meweekkk baca kisah ini :’( ngebayangin gimana rasanya keilangan orang yang kita sayang aza bikin nay nangis apalagi kalo bener2 keilangan :(

    smoga almarhum ditempatkan yang layak disisiNya, aamiin

  21. mataku berkaca2 Dhe baca postinganmu ini. aku jd teringat sama pengalamanku dulu, sama persis Leukimia yg jd biang keroknya.
    Leukimia jg yg udh membawa pergi sahabatku wkt SMA dulu, sama Dhe. sampe2 wkt itu aku bikin cerpen yg terinspirasi dgn hal ini.
    semoga ia diterima di sisiNya, amiin

  22. Ah… kisah ini mengingatkan saya pada kejadian 10 tahun lalu. Ketika itu, adik ipar (suami adik) saya, juga dipanggil Allah SWT karena penyakit ini. Sampai saat ini, dia masih hidup di hati saya. Meski dia adik ipar, tapi dia sudah seperti adik kandung saya.. Kepergiannya meninggalkan dua orang anak yang masih balita. Dan setiap kali melihat kedua anak itu sekarang, selalu saja membuat hati ini menangis..

    Kok saya jadi culcol ya…?

    Semoga sahabat Dhenok ditempatkan Allah di sisiNya yang paling mulia ya..

  23. Aaahhh ceritanya mengharukan banget dhe,,

    Aku sampe sekarang orang terdekat yang meninggal baru nenek dan kakek aja.. Yang muda sampe sekarang alhamdulillah belum pernah merasakan (dan jangan sampe merasakan deh)

  24. Mudah2an dosa2nya diampuni Allah SWT.
    Saya juga pernah kehilangan sahabat … jadi mikir apakah posting kisah itu juga utk ikut lomba? Sy sudah posting cerita lucu … tapi masa temanya sama dengan Dhenok ya …. #mikir#

    Tapi gak ada salahnya tema kematian karena mengingatkan kita untuk bersiap2 dengan baik …

  25. awhg, sedih banget.. ketika bab pertama rasanya sudah bahagia melihat wiwit sembuh dan keluar dari RS dan tersenyum.. namun di babak kedua, berita meninggalnya malah disampaikan langsung oleh orang lain.. coba kalo berita meninggalnya disampaikan oleh wiwit sendiri, pasti ngeri tuh
    #MaafBecandaKeterlaluan..
    - udah tau kisah sedih masih aja dibecandain -

    dhe, semoga arwah dan amal ibadah beliau diterima oleh Alloh SWT yaa…

  26. Dhe, maapkan Mak Cebong 3 yang baru mampir dimari. Ekye baru sempet ngenet lagi neh

    Sumpeh Dhe, bacanya bikin gw merinding dan pengen nangis. Thanks yah dikau udah mau men-share cerita ini. Sungguh luar biasa persahabatan kalian bertiga, meskipun saat ini Wiwit udah di tempat yang berbeda

    Al-Fatihah untuk Wiwit.

    Sun sayang untuk Aunty Dhe dari Double Zee

  27. Leukimia tuh sama aja kaya Thalessemia yang aku pernah buat kemarin
    intinya kita semua masih beruntung masih diberikan sehat makanya jangan suka galau & mengeluh kalau ketemu masalah

  28. Pingback: 11 + 5 + 11 | Perjalanan Panjang

  29. Mendoakan untuk sahabatnya, Dhe. Semoga diterima di sisi Allah SWT, dan sakit yang dideritanya meringankan dosanya. Amin…

    Ternyata kematian itu begitu dekat, yah? :(
    Ah, inget Mbak Nita lagi :(

  30. anakku juga penderita Leukimia tapi Alhamdullilah telah melewati masa-masa sulit menghadapi kemoterapi selama 111 minggu/2 th lebih

  31. tidak semua penderita leukimia berujung kematian, Naufal Khoiruddin Latif sukses menghadapi kemoterapi

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s