Abahku Manis Sekali

Saya termasuk dari sekian banyak perempuan yang tidak terlalu suka dengan kegiatan dapur, tepatnya sih tidak terlalu suka memasak. Soalnya setelah beberapa kali saya memperhatikan diri saya sendiri, setelah memasak bukannya saya berselera tapi malah menjadi malas untuk makan. Dan alhamdulillah-nya, ibu saya juga tak pernah memaksa saya untuk rajin memasak, makin lengkap deh kemalasan saya untuk memasak😀. Tapi meskipun tak suka memasak, saya masih bisa masak kok sobat blogger, sekedar menumis, masak sayur bening, sop atau masak pindang saya masih bisa #membela diri.

Seminggu sebelum memasuki bulan puasa, ntah kenapa tiba-tiba abah saya meminta saya memasak, katanya sih kangen dengan masakan saya. Okelah akhirnya saya turutin kemauan abah saya, masak pindang patin. Singkat cerita, pindang patin yang harusnya berasa enak itu berubah menjadi aneh, manis😦. Sedikit menyesal kenapa harus gagal, tapi pindang patin manis itu akhirnya tetap dilahap juga oleh orang rumah (karena laper kali ya??). Esoknya saya masak lagi (gara-gara kemaren gagal), saya masak tumis kangkung plus lauk pauknya (lupa lauk pauknya apaan, hehe). Dan untuk kedua kalinya tumis kangkung yang harusnya berasa pedas mendadak manis lagi😦. Haduuh, tobat dah. Mungkin karena udah kelamaan nggak masak kali ya, makanya ketika saya masak lagi rasanya jadi amburadul gitu. Akhirnya pas jam makan siang tiba, ketika abah saya memakan tu tumis kangkung, keluarlah uneg-uneg yang mungkin disimpannya dari kemarin.

“Lemak tumis kangkungnyo, manis” (Tumis kangkungnya enak, rasanya manis) Komentar pertama dari abah saya, tak tahu itu beneran pujian atau sindiran.

“Lemak darimano?? Rasonyo be aneh cak ini”(Enak darimana?? Rasanya aja aneh seperti ini)

“Lah lamo dak makan gulai yang manis cak ini, rasonyo pas seraso cak makan di Jogja,” (Udah lama nggak makan sayur yang rasa manis seperti ini, rasanya pas serasa seperti makan di Jogja)

“Yo beda lah pulok bah, raso tumis manis tetep be aneh,” (Ya beda lah bah, aneh kalau rasa tumis itu manis)

“Masak lagi besok yo??” (Besok masalh lagi ya??)

“Dakdo, cukup ai la duo hari ni masak terus,” (Nggak, sudah cukup dua hari ini masaknya)

Sambil bekomentar, abah saya tetap makan tumis kangkung itu dengan lahap. Dan itu adalah masakan terakhir saya sampai detik ini, saya belum mencoba masak lagi sobat blogger #ckckckck. Abah saya memang asli orang Jogja, wajar kalo beliau suka manis. Mungkin karena abah saya menghargai usaha saya memasak, makanya abah saya memakai cara yang sedikit halus untuk menyampaikan kritikannya, ya itu dengan embel-embel lidah Jogja yang doyan manis.

Salah satu bentuk bahasa cinta yang saya tangkap waktu itu yaitu ketika abah saya menyuruh saya masak, ketika abah saya makan dengan lahap makanan aneh saya, dan ketika abah saya mengkritik makanan saya. Abah saya tahu kalau saya tak begitu suka memasak, itulah kenapa kadang tiba-tiba abah meminta saya untuk memasak, mungkin supaya saya jadi suka memasak layaknya perempuan pada umumnya. Tapi ya tetap saja sampai saat ini saya masih malas berhadapan dengan dapur, mungkin nanti ketika saya sudah berubah status menjadi “istri” baru saya bisa suka dengan kegiatan masak memasak. Hehe😀

Kalau membicarakan bahasa cinta dari orang tua untuk anak memang tidak pernah ada habisnya, bahkan kita pun sebagai anak tak akan mampu menjelaskan berapa banyak bahasa cinta yang sudah mereka sampaikan. Dan pada kasus ini, saya menangkap bahwa abah saya sedang kangen dengan saya, kangen dengan racikan tangan anak gadisnya. Meskipun rasanya semerawut nggak jelas seperti itu, tapi abah saya berusaha memuji masakan saya dengan melahap habis sayur buatan saya, mungkin supaya saya tak kapok untuk memasak. Ahh, manis sekali abah saya waktu itu. ^_^

Kalo sobat blogger sendiri, bahasa cinta seperti apa yang sobat blogger tangkap dari orang tua kalian beberapa hari ini??

Cerita Ini Diikutsertakan Dalam Kontes Bahasa Cinta di Atap Biru

*91’91”

88 thoughts on “Abahku Manis Sekali

  1. hiks…hiks… ayah dan ibuku jauh di kota lain, insya Allah Idul Fitri nanti baru mudik, jreng… jreng…. biasanya ibuku langsung menyuruh ayah untuk menyembelih ayam peliharaan sendiri (ayam kampung) untuk dimasak bali, hmmm…. nikmatnya…

    • enak kali pak, sadaaaapp.. saya sering beli ayam bakar bumbu bali, nggak tahu deh bumbunya beneran khas bali atau gk tapi rasanya masih sama, rasa ayam.. hehe

  2. saya juga bisa masak walaupun saya cowok lho….
    kalau sekedar masak nasi, tumis dan mie…
    hehehehe….

    bahasa apa ya..??
    jauh dr ortu sih soalnya sekarang,,telpon-telponan saja…

  3. Dhe…say ajuga tak pandai memasak….kalau saya menawarkan diri Bunda dengan tegas bilang, nggak usah kamu yang belanja saja atau nggk usah biar adikkamu saja…tapi begitu kuat keinginanku buat masak suatu hari aku masak dan Bunda nggak mau makan dengan alasan trauma:mrgreen: tapi Papaku dneganmanisnya bilang “Wah..BUnd…anakmu enak ni masakannya cuma kurang sedikit bumbu aja,,,,” begitulah Papa menyemangati….meski gak enak dan bahkan aku sendiri gak doyan dengan rela Papa menghabiskannya….aku terharu😀

    • tuh kan bener, semua ayah juga akan melakukan hal yang sama. sepertinya kita harus benar2 belajar memasak nih Han, biar ntar bisa menyuguhkan hidangan yang enak untuk ayahanda tercinta..

  4. wah wah..patut dicontoh nieh..anak yang baik🙂 dan sayang sama abah..:)
    maaf yah mbak soal panggilan bu, abisnya saya kira photo yg di profile picture itu adalah putrinya jadi lah saya panggil bun..:) maaf maaf yah seribuk kali maaf yah mbak..:)

  5. Salam Takzim
    Bahasa cinta ayah atau ibu tak ada duanya, sejalan dengan waktu bahasa itu selalu terus memberi semangat untuk sayang kepada mereka
    Salam Takzim Batavusqu

  6. Di sana kontes, di sini kontes. Sepertinya Ramadhan kali ini memberi semangat yang tinggi untuk berbagi. Tapi….sepertinya saya cukup duduk manis di kursi penonton dulu.

    Bahasa cinta apa yang saya tangkap beberapa hari ini dari orang tua? Mm…terlalu banyak rasanya, meski tak semuanya berupa kata-kata.

  7. bapak saya pernah bilang… senikmat2nya makan di restoran, tetap lebih enak makan bikinan orang rumah sendiri… karena dimasak dengan menggunakan cinta… selain itu juga lebih sehat… he…he…😀

  8. Hehe coba aja latihan lagi mbak😀 Saya juga gak bisa masak. Cuma bisa masak mie dan air panas. Itu pun air panas yang saya masak gosong -__- #eh

  9. eh kok bapak kita sama yah? dulu juga bapak klo nyuruh saya masak, pake bilang pengen makan masakan saya. apapun rasanya, ya tetap dimakan.
    dan saya hanya memasak jika bapak rikwes😀

    tapiiiiiii sejak jadi istri, emang jadi rajin masak, niatnya sih pamer sama suami dan mertua klo saya juga bisa masak, buktinyaya suami pasti jadi gemuk karena rajin makan hahaha

    tenang aja, nti juga suka masak kok, klo pun engga, toh rumah makan banyak hehehe atau cari suami yg bisa masak hahaha

  10. waduh, jadi ingat orang tua nih. terus terang saya tak begitu dekat dengan orang tua dan lama tak lagi tinggal dekat orang tua. makasih sudah mengingatkan saya pada orang tua

  11. Subhanalloh… sekalipun awalnya terpaksa, masakan manis itupun bentuk bahasa cinta seorang putri bagi ayahnya ya..😳

    berarti abah sama kaya saya donk, orang Jogja..🙂 sudah dicatat ya Dhenok.. terimakasih untuk partisipasinya.. salam bahasa cinta..

  12. Pingback: Nikah Pakai Sarung(??) « Perjalanan Panjang

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s