First Love ~ Pemilik Hatiku

first loveNovember 2001

Hari ini gua bangun dengan hati yang masih berdegup tak karuan, nervous. Chatting malam itu adalah chatting terakhir gua dan Cia, karena Cia bilang dia akan sibuk sampai nanti dia datang ke Indonesia. And today, gua akhirnya akan bertatap muka dengan Cia, gadis cantik yang selalu memberikan gua energi positif selama ini.

Kami janjian di cafe Dago Atas sekalian lunch bareng, dan karena saking semangatnya gua pun datang 30 menit lebih awal dari waktu yang kami janjikan. Setelan jeans dan kemeja kotak-kotak membuat gua terlihat lebih cool, pakaian yang sedikit dewasa untuk ukuran anak SMP, tapi waktu itu ntah kenapa gua benar-benar pengen membuat Cia terkesan dengan gua.

“Udah lama??” pertanyaan itu benar-benar membuat gua hampir kehilangan nafas gua. Gimana gua nggak hampir mati, ketika gua lagi asyik menghayal tiba-tiba ada sosok cewek yang sumpah cantik banget yang tanpa basa basi langsung duduk di depan gua. Oh my God, gua benar-benar terdiam waktu itu. Bahkan menurut gua kalau saat itu Cia jepretin kameranya ke gua, foto gua adalah foto melongo yang paling bagus seBandung (lebay)😀.

“Hello, Keven??” tanya Cia lagi sambil melambai-lambaikan tangannya di depan muka gua.

Oh iya ya. Nggak ngak lama kok, baru juga beberapa menit” jawab gua dengan suara gemetar. Tapi Cia malah tersenyum ketika mendengar jawaban gua, mungkin karena dia tahu gua bohong. Tapi itu adalah saat yang nggak gua lupain sampe sekarang, senyum manis dari seorang gadis cantik yang akhirnya bisa gua lihat lagi setelah kepergian Alice.

Waktu itu gua dan Cia cuma nongkrong di cafe doang, berjam-jam. Selain karena waktu itu gua masih cupu banget dan belum mengenal istilah ngedate, jadi saat itu gua cuma menjamu Cia dengan wajah manis gua selama hampir 4 jam.

“Ven,,” panggil Cia dengan nada serius.

Gua noleh dan senyum ke arah Cia. Dan mendadak, gua langsung ingat dengan pernyataan Cia malam itu. Gua tahu kalo sekarang Cia pengen denger jawaban dari gua, kontan saja hal itu langsung bikin gua panas dingin seketika.

“Aku nggak pernah main-main dengan ucapan aku waktu itu. So please, kasih aku jawaban sekarang” suara Cia waktu itu lembut banget, dia benar-benar mencari bahasa yang halus untuk gua.

Dan inilah bodohnya gua, waktu Cia bilang seperti itu yang ada di kepala gua cuma Alice. Tiba-tiba Alice hadir lagi di otak gua, dan seolah Cia pun menjelma sebagai Alice. Gua benar-benar berharap kalo yang ada di depan gua saat itu adalah Alice.

Keven : “Lu tahu apa yang ada di pikiran gua saat ini??”

Cia : “Alice??”

Keven : (mengangguk)

Cia : “Ok, mungkin saat ini Tuhan masih menyuruh kita hanya untuk bersahabat”.

Dan lagi-lagi, omongan Cia sore itu benar-benar membuat gua terdiam. Tak lama setelah itu Cia pun pamit karena dia harus segera balik ke Jakarta. Sebuah rasa yang aneh pun tiba-tiba hadir di diri gua, ada sebuah rasa yang kuat untuk menahan dia saat itu. Gua tahu gua sayang sama Alice, tapi gua juga nggak ingin Cia pergi. Gua tahu rasanya bagaimana kehilangan dan akhirnya ketika Cia hampir berdiri, gua memberanikan diri untuk memegang tangannya. Sekali lagi dia menoleh ke arah gua, senyuman yang membuat semua rasa yang ada didiri gua mendadak hilang. Gua benar-benar nggak ngerti, jadi saat itu gua cuma megangin tangan Cia sambil terus menatap dia kayak orang bego.

“Aku nggak akan maksa kamu, tapi kalau kamu sudah yakin, aku akan kembali datang”. Itu adalah kalimat terakhir yang gua denger dari suara lembutnya Cia, dan kemudian melihat punggungnya berlalu hilang dari hadapan gua. Dan karena itu juga, gua kembali dihadapkan oleh rasa yang dulu pernah gua rasain ketika Alice meninggalkan gua begitu saja. Rasa yang akhirnya membuat gua tak punya cerita cinta ketika gua berada di sekolah.

You’ll love 2 times, and you will, many times,
But to love like our first—it could never be.

Nggak ada yang berubah dari Cia semenjak pertemuan itu, dia masih sama, ceria dan selalu memberikan gua energi positif tiap kali gua ngobrol dengan dia. Tanpa terasa hubungan gua dengan Cia udah berjalan sekitar 5 tahun, dan selama itu juga gua masih nggak tahu dengan pasti tentang perasaan gua ke Cia dan Alice. Hingga suatu hari sekitar penghujung tahun 2006, ada sebuah dus besar mendadak hadir di kamar gua. Bibi yang nerima dus itu juga cuma bilang kalau yang nganter dus itu mirip kayak pak pos, dan di dus itu sama sekali tak ada nama pengirimnya. Lama gua cuma pandangin dus itu, hingga akhirnya gua ingat kalau dus itu sama persis dengan apa yang dulu pernah gua kasih ke Alice. Dan ternyata benar, setelah dus itu gua buka ada boneka Hello Kitty di dalamnya. Jantung gua waktu itu benar-benar serasa hampir copot, ada sebuah perasaan sesak yang ntah darimana datangnya. Selain boneka, ada sebuah surat di dalam dus itu, dengan perasaan lemas akhirnya gua baca surat itu sambil duduk di lantai menyender dinding.

Keven..

Beberapa hari ini aku sempat ngeliat kamu, aku liat kamu sekolah, aku liat kamu hang out dengan teman-teman kamu, aku liat kamu yang jauh lebih semangat dan percaya diri.

Keven..

Kamu adalah kado terindah yang pernah Tuhan kirimkan untuk aku. Sosok laki-laki dan sahabat yang sampai saat ini belum ada yang bisa ngalahin kamu, jujur aku sangat-sangat kangen dengan kamu Ven. Dan semua kangen itu terobati ketika aku mendengar kamu tertawa lepas ketika kamu sedang kumpul dengan sahabat-sahabat basket kamu di lapangan.

Aku nggak akan pernah balik ke Indonesia lagi Ven, aku sudah memutuskan untuk menetap di Aussie. Kehidupan aku ternyata disini Ven, aku menemukan banyak cinta disini, cinta yang membuat aku menjadi lebih baik. Dan boneka yang sudah kamu lihat itu, itu adalah boneka yang sama persis dengan dulu yang pernah kamu kasih. Aku ingin kamu tetap mengingat persahabatan kita Ven, sama seperti aku. Maaf kalo aku diam-diam pulang ke Bandung, karena aku nggak ingin semua menjadi lebih rumit.

Keven..

Tuhan menakdirkan kita sebagai sahabat, tepatnya sahabat waktu kecil. Dan dulu ketika kamu pernah bilang suka ke aku, aku sama sekali belum begitu paham maksudnya. Tapi sekarang aku tahu Ven, kalau ternyata dulu aku juga punya perasaan yang sama. Aku juga sayang sama kamu Ven, selalu sayang kamu karena kamu sahabatku.

Terimakasih ya Ven untuk semuanya. Secepatnya aku akan hubungin kamu lagi, biar kita bisa tetap bersahabat.

Always miss u,

Alice Wijaya

Gua nggak tahu apa yang saat itu sedang gua rasakan, tapi yang pasti gua nggak nangis ketika gua menikmati rasa hampa itu. Gua benar-benar shock, nggak nyangka kalau semua bakal terjadi seperti ini. Tapi inilah hidup, dan lagi-lagi semua nasehat dari Cia yang kembali menyadarkan gua bahwa kita hidup di alam nyata, dan semua yang kita alamin kadang nggak sesuai dengan apa yang kita khayalin. Mungkin Cia benar waktu itu kalau perasaan yang gua rasain ke Alice hanyalah perasaan kangen akibat kehilangan sahabat baik gua. Alice sudah menemukan kehidupan tanpa gua disamping dia, meskipun awalnya gua berontak tapi akhirnya gua sadar bahwa cinta itu tidak menyiksa. Tapi Alice akan tetap selalu ada di hati gua, karena Alice adalah sosok yang juga sudah membuat gua menjadi seperti sekarang ini.

Juni 2008

Sebuah senyum tersungging di wajah gua saat motor gua berhenti di depan rumah itu. Semilir angin sepoi2 bagaikan membelai wajah gua, dan sinar matahari pagi bersinar lembut menembus pepohonan rindang. Gua lihat gadis manis gua tengah berjalan ke arah gua, memberikan senyum manis untuk gua. Meskipun pada awalnya gua agak dejavu ngeliat senyumnya, senyum yang bener-bener mirip dengan Cia.

“Tumben cantik lu hari ini??” tanya gua sambil melirik nakal ke sosok yang sudah duduk manis di belakang gua.

“Kasihan gua ngeliat lu yang udah dengan sabar tiap hari ngeliat wajah kucel gua, makanya gua berusaha untuk agak cantik hari ini” balas gadis bawel ini sambil mengambil helm yang ada di tangan gua.

Gadis manis ini gua temukan di awal kuliah gua, sosok yang bener-bener beda dari Alice dan Cia, sosok yang benar-benar bisa memberikan nuansa baru buat gua. Gadis manis ini adalah sahabat gua, sahabat baik yang gua punya sejak gua kuliah. Gua bersyukur, akhirnya setelah ada 2 gadis yang sudah berhasil merubah hidup gua menjadi lebih baik, gua akhirnya dipertemukan juga dengan gadis yang masih bisa menerima gua setelah gua cerita dengan semua masa lalu gua. Dia ngeyakini gua, kalau semua perjalanan kehidupan itu membutuhkan proses. Dan mungkin proses perjalanan cinta gua memang harus seperti itu, sebelum akhirnya gua bertemu dengan cinta gua yang sesungguhnya.

Gua tahu saat ini, Alice dan Cia pasti sudah bisa bahagia dengan dunia mereka masing-masing. Terakhir kabar yang gua denger, Alice sekarang berpacaran dengan dokter dan dia sendiri akhirnya mengambil jurusan perawat. Dan berkat Cia, gua bisa ikut bahagia ketika Alice bilang langsung hal itu ke gua. Sedangkan Cia, Tuhan memberikan takdir lain untuk dia. Tangal 1 Oktober tahun lalu Cia meninggal karena Leukimia, sebuah pukulan yang berat buat gua. Tak pernah menyangka sama sekali kalau Cia yang selama ini selalu membuat gua tegar dan pantang menyerah, adalah gadis yang ternyata sedang berjuang melawan kanker yang menyerang tubuhnya. Semoga Tuhan memberikan tempat yang indah untuk kamu Cia. Aku akan terus bangkit, terus berusaha menjadi Keven yang jauh lebih baik, sesuai harapan kamu.

Motor gua akhirnya berhenti di dekat sebuah pohon rindang. Pemandangan yang sudah jauh lebih berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tapi kenangan yang ada di pohon itu tidak akan pernah berbeda sampai kapanpun di memory gua.

“Ini tempat kenangan indah lu dengan Alice??” tanya gadis manis di belakang gua.

Gua mengangguk. Gua sengaja ke tempat ini lagi karena gua ingin di tempat ini semuanya berawal lagi dari awal, dengan cerita yang berbeda. Gua pun turun dan mengajak gadis manis ini ke dalam tempat itu, kami akhirnya duduk di ayunan. Percakapan pun terjadi di antara kami, dia yang memang sudah pernah gua ceritakan tentang Alice dan Cia pun paham dengan apa yang gua ceritakan. Tak terlintas gurat cemburu dari wajahnya, karena dia selalu bilang bahwa setiap orang punya masa lalu sendiri-sendiri. Dan tidak ada gunanya cemburu dengan masa lalu. Gadis yang kadang jauh lebih dewasa dari gua.

“Re..” panggil gua setelah gua berada tepat di bawahnya.

Gadis itu hanya diam, menunggu kelanjutan dari ucapan gua. Gua pun langsung mengambil secarik kertas yang memang sudah gua persiapkan dari semalam. Dan ketika kertas itu gua serahkan, gadis itu pun dengan pelan membacanya.

“When you said that you love someone, you are making a promise. A promise, of a lifetime. Make sure you remember that!”

“So??” tanya gadis itu sambil tersenyum, karena dia tahu bahwa apa yang gua tulis di kertas itu adalah ucapan Cia ke gua.

“Gua tahu kalau Alice dan Cia adalah sosok-sosok penting yang akan terus ada di hati gua, karena mereka adalah orang-orang hebat yang sudah membuat gua seperti ini. Tapi lu, lu berbeda dari mereka. Ketika perasaan gua ke mereka seolah cuma semu, tapi ketika gua menatap lu gua sangat yakin kalau perasaan ini nyata. Gua sayang lu Renata”.

Akhirnya gua berhasil menyelesaikan ucapan gua. Kata-kata yang udah gua susun selama setengah tahun ini sejak gua kenal dengan dia. Gua terus pandangin dia, mencoba untuk meyakinkan bahwa apa yang barusan gua utarain adalah benar-benar tulus dari hati gua.

Gadis manis yang mempunyai wajah berbeda dengan Alice dan Cia, gadis yang sama sekali tak ada keturunan Tiong Hoa, gadis asli Indonesia yang sudah benar-benar membuat gua menjadi orang Indonesia sesungguhnya. Dan akhirnya gadis itu tersenyum, dan dia mengangguk. “Thx God!!”

————- *~ THE END ~* —————

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “First Love ~ Create Your Own Ending” yg diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura

Cuap-cuap penulis :

1. Settingannya sengaja saya bikin sesuai dengan aslinya, juga nama-nama tokoh yang menjadi pemeran utamanya.

2. Judulnya memang nyeleneh sendiri dibandingkan chapter-chapter aslinya, tapi karena Armada sudah menemani saya dalam pembuatan tulisan diatas, maka saya pun memilih judul lagu Armada yang cocok dengan tulisan saya sebagai judulnya.

3. Ada beberapa kalimat yang saya ambil dari chapter-chapter sebelumnya, kalau nggak percaya tanya aja sama Keven sendiri😛

5. Terimakasih sudah membaca dengan sabar tulisan panjang ini. Kalau ingin membaca ending versi penulisnya, silahkan baca di blognya Keven.

*91’91*

60 thoughts on “First Love ~ Pemilik Hatiku

  1. kirain lagi ngetren bkin cerita teenlits, ternyata emang lagi ada kontes yah…
    duhh.. *jedotinkepalakedinding…
    pantas saja ceritanya kok beda-beda yah dengan blog sebelah..hehehe

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s