Book Review: always, Laila

Judul : always, Laila – hanya cinta yang bisa

Pengarang : Andi Eriawan

Penerbit : Gagas Media

Cetakan Kelima : Juni 2005

Jumlah Halaman : 288 halaman

ISBN : 9793600381

Novel ini adalah salah satu novel favorite saya, karena bahasa yang disampaikan di novel ini cukup sederhana tapi penuh makna. Bukan hanya sekedar tentang novel cinta biasa ala abg labil, tapi novel ini memberikan banyak pelajaran tentang cara menjaga cinta, menumbuhkan cinta, dan juga berkorban demi cinta. Tanpa basa basi lagi, langsung deh disimak review novel  always, Laila versi saya.

Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang gadis manis berambut panjang yang bernama Laila, mempunyai kekasih bernama Phrameswara. Mereka bertemu ketika masih sama-sama sekolah di SMUN 5 Bandung, sebuah pertemuan yang singkat. Tapi sejak pertama kali melihat Laila, Pram sudah tahu bahwa Laila adalah separuh dari hidupnya Mereka adalah pasangan yang harmonis dan juga kocak, hubungan indah yang terjalin sejak SMA itu pun terus berlanjut hingga mereka kuliah. Pram yang mengambil jurusan Arsitek dan Laila mengambil jurusan Teknik Penerbangan di ITB. Mereka sempat LDR ketika Laila harus kerja prakek di Malaysia. Pada bagian ini adalah awal konflik mereka di mulai, Laila harus berhubungan lagi dengan Bubung, sahabatnya ketika SMP yang ternyata diam-diam mencintai Laila dari dulu. Dan pada bagian ini juga, Pram akan menunjukkan pengorbanannya ke Laila dimana dia akhirnya nekat pergi ke Malaysia hanya untuk menemui sang pujaan hati.

Ketika selesai kuliah, Pram pun mendirikan sebuah cafe yang diberi nama Laila’s cafe. Cafe yang menjadi saksi terakhir bahagianya kisah cinta Laila dan Pram. Ketika hubungan mereka sudah berjalan 7 tahun, Pram akhirnya melamar Laila di Laila’s Cafe. Cafe romantis itu pun menjadi saksi pengikraran cinta mereka, Pram dan Laila benar-benar bahagia. Beberapa hari setelah itu, ketika Laila hendak pergi bersama Pram, mendadak perutnya kembali kambuh. Seperti biasa, Laila selalu merasa kesakitan ketika dia sedang datang bulan, tapi pada malam itu adalah puncak dari segala sakit yang pernah dia rasakan. Laila pingsan, dan dia pun sempat dirawat di rumah sakit selama 1 minggu. Ketika Laila sembuh, Pram dan Laila berencana untuk mengutarakan tentang lamaran tersebut kepada orang tua Laila. Tapi sebelum Pram datang melamar secara resmi, Laila dikejutkan oleh sebuah kenyataan pahit yang langsung menghancurkan semua mimpi indahnya bersama Pram. Dengan sangat pelan, orang tua Laila memberitahu bahwa dia menderita Carsinova Ovarium. Dokter mendeteksi adanya kista yang telah menjadi kanker di kedua indung telur Laila, mendekati stadium lanjut dan harus segera diangkat. Kenyataan yang sangat menyakitkan buat Laila, diusianya yang baru 24 tahun, dia harus merelakan kedua indung telurnya diangkat supaya dia bisa tetap hidup. Dan itu artinya, dia tidak akan pernah bisa hamil.

Bagaimana dengan Pram?? Pram sama sekali tidak tahu apa-apa, baik Laila maupun keluarga Laila tidak ada yang memberitahu tentang penyakit Laila. Dan karena alasan itulah, akhirnya Laila memutuskan Pram secara sepihak. Bagian ini benar-benar seru, saya pun susah untuk menjabarkan lewat kata bagaimana tersiksa dan sakitnya ketika Laila harus melepaskan Pram untuk mencari pengganti dirinya yang lebih sempurna. Pram tidak bisa menerima begitu saja, tapi Laila terus menutup diri dan sama sekali tidak pernah memberikan kesempatan kepada Pram untuk menemui dirinya. Bukan hanya Laila, Pram pun sangat terpukul dengan keputusan Laila. Lamaran yang diajukannya dulu sudah diterima oleh Laila, tapi mendadak dibatalkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Berbulan-bulan Pram sangat terpukul, bahkan cafenya pun tak lagi di urusnya. Hingga akhirnya tepat 5 bulan ketika Laila memutuskan hubungan mereka, disaat Laila berulang tahun, Pram memberikan sebuah surat kepada Laila melalui jasa pos dan juga sebuah jam tangan Guess sebagai kadonya. Saya akan memberikan sedikit bocoran tentang surat yang ditulis Pram untuk Laila, saya ambil bagian akhirnya saja ya.

Laila sayang,

Aku tidak akan lagi bertanya-tanya tentang kabar atau pun alasan perpisahan kita. Aku lelah dan terluka. Apa yang pernah dan belum kita miliki telah aku anggap mati. Dan ternyata kamu keliru. Karena hingga malam ini, aku masih tidak mengerti.

Selamat ulang tahun…

~Pram~

Dan dari surat Pram inilah, Laila akhirnya sadar bahwa dia seharusnya tidak menyiksa Pram seperti ini. Dia kumpulkan lagi keberanian, untuk mengatakan terus terang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ketika Laila mencari Pram, Pram sudah pindah ke Jogja untuk memulai hidup barunya disana. Laila tidak menyerah, dia pun menyusul cintanya ke Jogja. Tapi ternyata belum sempat Pram melihat kedatangan Laila, Pram sudah terlebih dahulu meninggal akibat kecelakaan di tempat kerjanya. Sad ending?? Memang. Dan jujur saya pun kurang suka, tapi mungkin disinilah letak pesan yang disampaikan oleh penulisnya. Penasaran?? Baca sendiri dong, hehe.

Gaya penulisan yang disampaikan oleh Andi Eriawan sangat apik, dia menggabungkan tulisan dari sisi perempuan dan laki-laki. Bahasa yang puitis, bahkan ketika klimaksnya pun Andi menuliskannya dengan sempurna, emosi yang dihadirkan di novel ini benar-benar terasa. Jadi saya merekomendasikan novel ini untuk sahabat koleksi, karena novel ini memberikan pelajaran tentang bagaimana cinta seharusnya.

Saya menyukai novel ini, karena saya pun pernah berada di posisi Laila. Sebuah kenyataan yang mendadak harus saya terima, dan atas nama cinta saya akhirnya menyuruh dia untuk pergi dari hidup saya. Tapi ternyata saya dan Laila sama, kami terlambat untuk menyadari bahwa itu bukan namanya cinta. Cinta tidak harus mengusir dia yang sudah bisa menerima kita apa adanya, cinta tidak membuat saling tersiksa, dan cinta adalah sesuatu yang harus dilalui dengan kejujuran dan dijalani bersama. Mungkin saya dan Laila sama, kami berusaha untuk tidak menyesal atas pilihan yang sudah kami pilih dulu. Dan menjadikan ini pelajaran, supaya nanti kami bisa lebih menjaga dan mempertahankan cinta yang datang ke kami.

Dan sebagai persembahan terakhir, saya akan memberikan sebuah nasehat yang disampaikan oleh bundanya Pram ketika akan melepas Pram pergi ke Jogja. Saya suka dengan nasehat ini, karena saya juga percaya bahwa kita tidak akan pernah bisa melupakan orang yang sudah pernah hadir di hati kita.

“Kalau kamu sangat mencintai Laila dan merasa bahagia saat bersamanya, jangan pernah melupakan dia, Pram. Biarlah kenangan-kenangan indah di antara kalian tetap tersimpan. Luka di hati tidak akan pernah sembuh hanya dengan berusaha melupakannya. Asalkan kamu bisa berdamai dengan hatimu, kamu akan temukan jawaban dari semua ini.”

” Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp “

*91’91*

69 thoughts on “Book Review: always, Laila

  1. Aduh Dhee.. Jd ingin nangis baca reviewnya Dhe.. Sedih bgt ceritanya…
    Terus teruuus.. “Pram”nya Dhe skrg gmana kabarnya…? Hehehe.. *maap usil*

    Aku suka sama nasihat terakhir dari Ibunya Pram.. Kalimatnya indah bgt… Ya apa yg tjd di masa lalu telah membuat diri kita spt skrg ini ya..

  2. wah keduluan ama yang lain nih.
    Wah sedih banget baca reviewnya dhe, kapan-kapan boleh minjem novelnya donk. Ntara kalo dipenjemin, tak buatin review versi saya hehehhe
    Semoga sukses dhe

  3. Luka di hati tidak akan pernah sembuh hanya dengan berusaha melupakannya. Asalkan kamu bisa berdamai dengan hatimu, kamu akan temukan jawaban dari semua ini

    aah, gue banget tuh🙂

  4. Aku punya 2 Novel baru tapi mau aku bikin hadiah, tapiaku emang jarang baca novel jadi bingung kalau maukasih review buku-buku.

    Btw, lagi-lagi masalah cinta ya Dhe…tapi kau yakin akhirnya happy ending. Senengnya nulis kita bisa menentukan sendiri jalan ceritanya🙂

  5. Dheee…kenapa sih sad ending??? hiks..😥
    terus? gimana dong akhirnya mereka berdua menyadari bahwa cinta mereka sebenarnya indah ???
    ( penasaran) 😦

    semoga sukses di kontes review ini ya Dhee….
    salam

  6. “Carsinoma Ovarium”🙂
    Pokoke kisah2 yang berkaitan dengan penyakit, apalagi sejenis kanker, selalu membuat hati pembaca tercabik-cabik ya…? *lebay*😀
    Semoga sukses review-nya ya🙂

  7. wah udah selesai yah..hmm..saya kok belom sempat posting besuk yah terakhir semoga hari ini bisa dan menyempatkan untuk menamatkan membaca dan posting buat kontes🙂
    semoga sukses yah dhe…nice review…

  8. novel ini mirip sama novel “Seindah Fajar Dilangit Jogja”. Cuma, yang bedanya, ending dan nama pemainnya aja.

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s