Suka Duka Uang Saku

Uang saku bulanan adalah pelajaran pertama saya tentang bagaimana cara mengelola keuangan sendiri. Sejak kelas 5 SD, ibu saya sudah memberikan uang saku per bulan. Uang saku yang saya terima pun bisa dibilang pas-pasan, saya bilang pas-pasan bukan karena saya tidak bersyukur tapi karena memang itulah adanya. Misalnya saja setiap hari saya dijatah untuk jajan disekolah 1000 rupiah, jadi uang yang saya terima di awal bulan adalah 30.000 rupiah. Dan uang itu tidak hanya untuk uang jajan di sekolah, tetapi juga untuk uang jajan di rumah, di TPA, semuanya dah pokoknya.

Orang tua saya juga sejak kecil tidak pernah memanjakan saya dengan memenuhi semua apa yang saya inginkan. Jika saya menginginkan sesuatu barang, maka saya pun harus menabung terlebih dulu untuk bisa menikmati barang tersebut, karena orang tua saya hanya akan menambahi setengah harga dari harga barang tersebut. Perjuangan saya bisa dibilang cukup berat sahabat #lebay, karena jika saya ingin punya uang lebih saya pun harus berusaha terlebih dulu mendapatkan uang tersebut. Itulah kenapa saya sangat sayang dengan barang-barang yang bisa saya beli sendiri, dan secara tidak langsung karena itu juga saya jadi belajar bagaimana cara merawat dan menjaga barang-barang yang saya punya.

Orang tua saya memiliki toko buku dan juga menjadi agen koran di daerah saya, dan pegawai orang tua saya adalah anak-anak angkat mereka. Jadi dulu ketika kakak-kakak saya tersebut selesai berjualan koran, maka saya pun sering menawarkan diri untuk membantu mereka menghitung uang sebelum akhirnya disetorkan ke orang tua saya. Alhamdulillah bebera lembar uang seribuan pun akhirnya bisa saya dapatkan, tapi sayang kegiatan itu tidak berlangsung setiap hari. Hahahaha, wajar juga sih soalnya kalo tiap hari kakak-kakak saya yang bangkrut karena gajinya mesti berkurang untuk ngebayar saya. Dan karena nggak bisa mendapatkan uang tiap hari, saya pun memutar otak bagaimana bisa mendapatkan uang tambahan lagi. Dulu, ketika orang tua saya dan juga sahabat-sahabat mereka menyuruh saya untuk mencabut uban-uban yang bersemi di rambut mereka, maka saya pun dengan senang hati melakukan. Tapi itu tidak gratis, karena dulu saya memasang tarif 100 perak per uban. Jangan tertawa sahabat, karena itu benar-benar saya lakukan. Dan kejadian itu, terus berlanjut hingga saya MTs. Adakah sobat blogger yang tertarik untuk cabut uban dengan saya?? Hahahahahaha.😀

Ketika saya SMA, uang yang saya terima pun menjadi makin pas-pasan. Ketika sahabat-sahabat saya bisa makan puas ketika jam istirahat dengan uang minimal 5000 rupiah, maka saya pun cukup ikhlas dengan uang jajan yang diberikan sebesar 2000 rupiah. Ya, uang saku bulanan yang saya terima ketika SMA adalah 60.000 per bulan, dan itu bukan di zaman Orde Baru lagi sahabat. Itu terjadi ketika tahun 2005-2008 dimana dulu harga pempek yang paling enak dan bermerk dijual 1000 rupiah per buah, itu berarti untuk makan pempek pun saya cuma bisa makan 2 buah. Oh my God, bayangkan betapa dulu saya harus ekstra hemat kalo saya ingin makan pempek 10 buah dalam 1 kali makan. Dan karena uang 2000 rupiah itu juga, saya akhirnya harus berjalan kaki ketika sekolah yang menempuh jarak lebih dari 1 km. Memang tidak jauh, tapi bayangkan saja bagaimana dulu saya harus jalan kaki ketika pulang sekolah, panas + capek + laper. Berdasarkan pengalaman tersebut maka saat saya kelas 2 SMA, saya mulai mencari cara untuk bisa mendapatkan tambahan uang yang tidak hanya seribu duaribu rupiah. Jadi saya pun akhirnya berbisnis MLM, salah satu MLM yang cukup terkenal di daerah saya karena produk yang dijual beragam. Alhamdulillah berkat bisnis yang saya jalani, akhirnya saya tak lagi pulang dengan jalan kaki panas-panas karena saya sudah bisa membayar angkot sendiri. #bangga🙂

Tapi di masa awal kuliah, saya sempat menghentikan bisnis saya tersebut. Saya sih berharap orang tua saya bakal berhenti menyiksa saya dan sedikit memberikan uang saku yang sedikit lebih. Tapi ternyata tidak sahabat, orang tua saya masih menggunakan cara lama untuk menyiksa saya dengan benda yang bernama UANG. Hingga akhirnya pada saat semester 2 saya benar-benar tidak tahan dengan minimnya uang yang saya punya, dan kemudian bisnis MLM itupun berlanjut lagi. Masa kuliah ternyata beda dengan masa SMA, sahabat-sahabat kampus saya ternyata sama kere-nya dengan saya. Itulah kenapa akhirnya saya pun menggunakan sistem kredit tapi kredit yang tidak berbunga, jadi setiap setengah bulan sekali sahabat-sahabat saya harus menyetorkan uang kepada saya. Tapi ternyata disitulah letak awal cobaan yang beratnya, karena kalau saya menggunakan sistem kredit itu berarti saya harus punya modal untuk membeli barang tersebut terlebih dulu. Setelah saya semedi 9 hari 9 malam, saya pun mendapatkan ide super. Saya meminta uang saku ke orang tua saya untuk 2 bulan, jadi saya hanya menerima uang setiap 2 bulan sekali. Uang saku yang jatah bulan kedua, saya pakai untuk modal membeli barang pesenan sahabat-sahabat saya. Alhamdulillah, ternyata sukses. Dan pada saat bulan kedua berlangsung saya bisa hidup dengan sisa hemat pada bulan pertama plus uang setoran dari sahabat-sahabat saya yang kredit dengan saya. Tuhan pun ternyata sangat sayang dengan saya, karena berkat Dia akhirnya saya benar-benar bisa merasakan nikmatnya berbisnis. Saya tak pernah takut ketika uang di dompet saya tinggal 10.000 rupiah, karena saya mempunyai tabungan dimana-dimana. Dan bukan itu saja, berhubung bisnis yang saya jalankan cukup laris, maka saya pun mendapatkan bonus saya sebagai member oleh MLM yang saya ikutin, dan bonus itu tiap bulan mengalir ke rekening saya #jogetBahagia.

Masa-masa itu benar-benar tidak akan pernah saya lupakan sahabat, karena itu adalah saat puncak dimana saya bisa memuaskan diri saya sendiri dengan hasil kerja keras saya sendiri. Saya bisa puas nonton di bioskop, karaoke,  ngeborong buku, belanja, dll tanpa harus pusing dengan minimnya uang yang saya punya. Dan saya pun bisa melakukan itu semua dengan santai dan happy, tanpa dibebani perasaan bersalah karena sudah menyalah gunakan uang orang tua saya. Dan orang tua saya pun cuma bisa tersenyum, ketika saya pulang dengan membawa barang baru ke rumah. Mungkin ibu saya saja yang sering berkomentar, “Beli baju lagi??” atau “Beli buku lagi??”. Tapi sayangnya, waktu itu saya cuma belajar tentang bagaimana caranya mengatur keuangan saya supaya cukup dan bagaimana caranya berbisnis. Saya lulus pada dua pelajaran tersebut, tapi saya telat belajar bagaimana cara mengelola uang yang saya punya. Ketika saya sudah tidak lagi merasa pas-pasan, saya terlalu bahagia hingga akhirnya uang yang saya punya pun habis untuk kepuasan saya sendiri. Saya melupakan kebiasaan menabung yang dulu pernah saya terapkan. Tapi tidak masalah, karena saya menganggap itu sebuah pelajaran untuk saya. Bukankah pengalaman adalah guru yang nyata?? Hehe. Dan terlepas dari itu semua, saya baru menyadari bahwa mungkin itu adalah salah satu cara orang tua mendidik saya. Orang tua saya mengajari saya untuk hemat, mengajari saya hidup secara sederhana, mengajari saya pentingnya sebuah usaha, dan juga mengajari saya bagaimana caranya mengelola keuangan yang saya punya.

So, untuk dedek Farhan dan Razan, belajarlah dari pengalaman kakak (jyaaahh, kakak :P). Berapapun uang saku yang kalian terima, ntah itu per hari, per minggu atau juga per bulan, disyukuri saja. Jangan pernah manja, jangan pernah hanya meminta, tapi kalo kalian ingin lebih maka berusahalah sendiri. Menabung dan hidup hemat, itu kunci utamanya. Kalian cowok-cowok hebat sayang, dan pasti kalian bisa lebih sukses mengatur uang saku kalian dibandingkan kakak. Sukses terus yaa, caiyou!!

.::Happy B’day Razan::.

.::Happy B’day Farhan::.

Tulisan ini dikutkan untuk acara “Bingkisan Dari Kami” yang diadakan Mbak Ketty Husnia

*91’91*

118 thoughts on “Suka Duka Uang Saku

  1. wow,,,
    sama dhe, dulu aku juga dikasi uang saku bener2 pas pasan banget…
    Untungnya SD, SMP deket, jadi ga terlalu masalah..
    waktu SMA baru deh, pokoknya cukup buat transport PP + makan siang ala anak skolahan.. hahah

  2. jadi ingat jaman dahulu…waktu sekolah
    saat SMP orang tua memberi keleluasaan tentang penerimaan jatah uang saku HARIAN/ MINGGUAN, dan sayapun meminta mingguan aja karena jumlahnya banyak lantas karena kurang bisa memenej uang terkadang belum seminggu uang udah habis terpaksa minta lagi sama nenek atau paman. kalau sama ortu g berani

  3. Jadi ingat pas SD dulu. Aku malah NGGAK DIKASIH uang saku sama sekali, haha. Putar otak, akhirnya bikin bisnis sendiri: nyewain buku-buku bacaanku ke teman. Hasilnya lumayan banget tuh😀 Cuma ya jelas ada suka-dukanya lah ya. Dukanya, ada beberapa temen nakal yang bayarnya nunggak/nggak ngembaliin bukunya/ngerusak bukunya (ada satu buku yg dibalikin udah hancur karena katanya di-oven sama dia🙄 , dan dia nggak mau tanggung jawab, grrrr).

    Kapan2 nulis tentang ini ah, hahaha🙂

    Btw, bener. Kalo udah punya uang sendiri itu kemudian tantangannya adalah memenej dengan bener. Nggak cuma dalam hal memenej pengeluaran aja, tapi juga memenej tabungan, hehehe🙂

  4. saya dulu waktu sekolah malah uang saku jarang dikasih,, (derita saya) hehhee,, terima kasih telah berbagi cerita sobat,, salam kenal dari blogger palembang,,😀

  5. Dulu Bapak Ibu saya juga sangat hemat dalam memberikan uang saku kepada saya. Waktu itu terkadang saya merasa jengkel dan iri sama teman2 yang uang sakunya berlimpah.
    Tapi akhirnya sekarang saya sadar bahwa itu merupakan sebuah pembelajaran dan pembiasaan sikap yang sangat berguna bagi saya.

  6. Uang saku ku dari dulu ngepres Dhe, kalau ingin lebih ya minta ke tante, Om kalau gak gitu ya aku diem saja….lagian Bundaku gakngebiasainaku jajan di luar, lebih baik bawa bekal…

    tapi saat SMA aku mulai mencari akal bagaimana menambah uang saku, dari mulai jualan gula, minyak (dr koperasi sekolah), kosmetik sampai dengan baju dan tak sebentar aku juga menjadi tutor untuk siswa TK – dengan SD alhamdulillah lumayan deh bisa beli apa yang aku mau tanpa minta. Bahkan aku bantu ayahku dan di gaji, hehehehhe

  7. kalo aku kurang2, wkwkwkwkwkwkwk
    apa adanya harus tetep disyukuri dan selalu berjuang tuk mendapatkan apa yg kita harapkan..
    gud lak tuk kuisnya..

  8. beuh..senasib lah kalo gitu sama saya dhe….
    jajanan SMA aja cuma cukup buat beli somay…pulangnya harus jalan kaki…
    pas kuliah tiap tanggal tua harus ngutang..
    hahahaha…

  9. hehehe … kisah uang saku selalu menarik ya
    saya pun tidak dimanjakan dengan uang saku yang jor2an
    sekedarnya saja!
    klo tidak mau dibilang menyedihkan😦
    apalagi dulu ortu malah ga mau ngasi bulanan seperti ortu dhenok tu ..

    btw itu emang sanggup gitu makan pempek 10biji sekaligus? ckckck dasar lah wong kito xixixi saya mah makan pempek seporsi aja udah begah … hahaha

  10. Saya ada cerita lain, dari sebuah keluarga keturunan tionghoa (cina).

    di keluarga ini, bahkan untuk dapat uang saku bulanan, seorang anak dibebani dengn pekerjaan rumah, disesuaikan dengn usia mereka…

    kalau mereka tidak mengerjakan tugas rumh, mereka tidak dapat apa2…

  11. Wah..kok bisa samaan sih Dhe, aku jg mulai dikasih uang jajan bulanan kelas 5 SD lho, dan nominalnya adalaaaah… Rp. 5000 sebulan! qiqiqiqi…keliatan sekali bukan, zaman kapan aku berseragam merah putih😛

    Gudlak ngontesnya ya Neng, aku msh berupa draft nih, hiks

  12. 🙂 aku malah ga kepastian dapat jatah berapa. tapi syukurlah, di kampung kecil- kecil dah bisa cari uang..kabayang ga mba, anak perempuan kecil, teriak-teriak jualan es..hehehe..
    namun apa pun yang takdirkan, itu lah yg terbaik buat kita..

  13. Dulu orang tua saya pun selalu memberikan saya uang saku pas–pasan…… harus diatur sendiri sampai cukup.
    Waktu kuliah juga begitu, malah semakin kere hehehe…

  14. hehehe…..
    hampir sama dhe…
    waktu kuliah, ngekost….bingung, gmn caranya bs nabung….
    akhirnya…jualan daster, sprei, sampe baby doll….pokoke jualan dan dapat untung….
    alhamdulillah…bs jg….:)

  15. wow benar-benar perjuangan pengelolaan uang yang sangat ketat. Saya juga pernah mengalaminya seperti itu meski dengan nominal yang berbeda. Intinya adalah hidup sederhana dengan uang yang terbatas membuat kita kreatif agar bisa survive dengan kondisi yang ada.

  16. penerapan pemberian uang saku oleh ortu kita dulu, ,kedengarannya memang agak kejam ya Dhe 😦
    ternyata malah efeknya bagus utk kita, jd gak boros, dan pandai mengelola uang ….🙂

    Semoga sukses di kontes ini ya Dhe
    salam

  17. hiks, ngomong ngomong tentang uang saku, pengalaman saya ada pada kelas smp saya, saat itu saya mendapat jatah rp 100 tiap harinya (pada tahun 92-95)

    ibu saya mempersilakan uang itu untuk jajan, ditabung atau membeli apa saja, dari uang seratusan itu saya mencoba menyisihkan untuk membeli ayam untuk dipiara. hehehe

    salam dari wonosari – yogyakarta

  18. wuihh.. dari SD sudah dapet uang saku bulanan. luar biasa. aku baru dapet sistem bulanan itu ya waktu kuliah. tapi menurutku, bulanan atau harian, ada plus minusnya masing-masing. dan walaupun uang saku harian, tetep perlu manajemen yang baik juga🙂

    salut banget buat mas Dhenok yang sudah sukses jadi bisnisman🙂

  19. hebat mbak denok, udah belajar manajemen dari kecil
    pasti sekarang udah jadi master manajemen keuangan
    sukses selalu buat segalanya

  20. btw kalo lagi gak ada proyek n sepi order, uban nenek saya juga bisa digarap setiap saat.. *coz udah putih semua* :p

    anyway, salut buat perjuangan anda..😀

  21. Kalo baca cabutin uban, saya jadi inget juga pengalaman saat kecil. Saya juga suka cabutin uban uwak saya dangan imbalan beberapa rupiah. He he. .

    Salam.. .

    • Saya nda inget pasti berapa uang jajan saat masih SD, SMP dan SMEA. Yang jelas tidak setiap hari. Berbeda dengan Sabila, uang saku sepertinya sama wajibnya dengan membawa buku. hehehe… tapi Alhamdulillah, untuk anak seusianya,uang saku Sabila masih bisa diajak damai.

  22. wah hebat :O mamaku juga tegas soal uang, klo mau sesuatu musti berjuang dulu karena didunia nyata gg ada yang namanya instan kan ya, tapi klo soal pendidikan nah barulah mamaku royal.
    tapi aku tuh aneh, kadang bisa hemaat tapi kadang borosnya super, kurang niat ya😛

  23. Kalau fachrie sependapat dengan beberapa ulama bahwa MLM itu sebaiknya ditinggalkan, sebab ada unsur dosa disitu (idem) untuk lebih jelasnya searching2 atau nanya sebagian unstads deh mengenai hal ini. Tapi bisnis yang satu sy sepakat dan mendukung

  24. Ceritanya mengingatkan masa kecil hingga dewasa saya. tetapi semua itu menjadi pembelajaran untuk kita ya Sob.

    Semoga menang dalam kontestnya dan sukses selalu.
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  25. oh uang saku…
    dulu waktu SD uang saku saya 100. waktu kelas 4 SD naik 250. trus SMP naik jadi 500 doang, lalu SMA 1000.
    Kuliah , uang sehari-hari 20ribu (makan, minum, ngeprint, potokopi, dan lain-lain).
    yang penting hemat beeeb😀

  26. Wah dhe kayak ibu saya sekarang, bisnis terus. Tapi kalo ibu saya nawarin barang ke tetangga2😀
    Dhenok hebat! TOP!😀
    Dhenok keren!
    Bagi 20rb dong! :p

  27. orang orang sukses selalu terlebih dahulu terbiasa dengan kesulitan

    sukses terus ya gama😀
    seneng ya ada toko buku jadi bisa kredit buku ke ortu *hahahha

    aku suka banget buku tapi ngga pernah dibelikan. jadi mesti ngumpulin uang sendiri

  28. Wah… keren dong, bisa punya duit saku sendiri. Mengingat aku dulu minta melulu dari ortu [:))]
    Syukur deh, sekarang Dhe dapat pelajaran berharga banget ya. Yuk, mari berhemat!!
    #ngitip buku tabungan yang jumlahnya fantastis berkurang [:(]

  29. belajar memenej uang saku sendiri sejak kecil baik sekali untuk mendidik kita hemat dan menghargai barang hasil uang sendiri, rasanya pasti bangga kan atas didikan orang tua seperti ini. salut lho mamah samu kamu🙂

  30. he uang saku yang dulu saya terima di zamannya, mungkin sekarang udah gak kerasa ya, nominalnya sedikit banget pasti

    dulu juga saya dapetnya pas pasan, hehe.

  31. Uang saku mengingatkan saya ketika sekolah dulu. Kalau sekarang bekerja, uang saku digantikan dengan uang kenakalan karena selain gaji bulanan, uang insentif juga diterima setiap bulan. Disebut uang kenakalan, itu istilah di kantor saya saja. Mengingat kita sering ditugaskan keluar kota untuk acara liputan, maka setiap petugas akan dibekali uang jalan ( SPJ ). Biasanya uang jalan ( SPJ ) itu terkadang panas dalam arti, kebiasaan ketika berada di luar kota sering membelanjakan untuk sekedar berbelanja, merasakan kuliner khas daerah tempat kita bertugas sementara dan tentu saja memberikan oleh-oleh untuk teman kerja yang ada di kantor.
    Begitu banyaknya tetek bengek yang harus dibelanjakan, terkadang membuat SPJ tinggal recehan saja. Karena itulah kita sepakat menamakan uang SPJ itu sebagai uang kenakalan alias uang yang harus dibelanjakan agar pihak lain juga ikut senang.

  32. Nice blog here! Also your web site loads up fast!
    What host are you using? Can I get your affiliate link to
    your host? I wish my website loaded up as quickly as yours lol

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s