Lebih Dari Sekedar Ambrosia

Maya mengamati menu makan siangnya. Diamati dengan seksama makanan-makanan yang akan dia santap. Sambal tempe yang super pedas, lengkap dengan lalapan daun ubi dan kerupuk jengkol.

“Nyam,, nyam,,” dengan lahap Maya pun langsung menyantap menu makan siangnya dengan rakus.

“Ckckck, pelan-pelan makannya May!!” Dea yang mendadak muncul pun langsung geleng-geleng kepala melihat Maya makan.

Maya lebih suka makan lesehan di depan TV daripada harus duduk manis di meja makan. Apalagi kalau menunya tidak ada yang berkuah, Maya pasti akan lebih memilih untuk menggunakan tangan manisnya daripada harus memakai sendok dan garpu.

“Huuh haaah” Maya mengecap-ngecapkan mulutnya sambil sesekali mengelap keringat yang mulai jatuh di dahinya.

“Nih, minum dulu biar ilang pedesnya,” Dea menyodorkan segelas air mineral dingin ke Maya. Maya memang suka sekali dengan sambal, baginya makan tanpa sambal itu rasanya hambar.

“Kamu nggak makan De??” tanya Maya sambil menambahkah lagi sambal tempe ke piringnya.

Dea menggeleng pelan, “Tadi udah makan dirumah”.

Maya dan Dea adalah sahabat sejak kecil. Rumah mereka bersebalahan, orang tua mereka pun bersahabat, itulah kenapa mereka menjadi sahabat yang sangat dekat.

“Nambah lagi May??” Dea melongo kaget ketika melihat Maya hendak mengambil centong nasi.

Maya hanya meringis lebar sambil menambahkan secentong nasi lagi ke dalam piringnya.

“Kayak orang kelaparan aja sih, ” lagi-lagi Dea hanya bisa geleng-geleng kepala melihat porsi makan sahabatnya tersebut.

“Enak banget ini De, sumpah. Apalagi sambal tempenya, luar biasa.”

“Ya tapi nggak gitu juga kali De, kamu udah nambah 3x lho,”

“Kamu kayak nggak tau keluargaku aja De. Mas Pram, bang Tyo, belum lagi si bocah kecil Naya ntu, mereka juga pada gila makannya apalagi ngeliat sambal tempe yang pedas menggoda ini. Kalo aku nggak nambah sekarang, pasti ntar aku bakal nyesel semalaman,”

“Lebay ah!!”

“Yee nggak percaya ni anak. Taruhan deh kita, pasti ntar malam ni sambal udah nggak ada lagi di meja makan,”

“Ya iyalah, lha wong kamu aja udah nambah 3x belum lagi yang lain ntar. Ya wajar kalo nggak ada lagi ni sambal ntar malam,”

Maya yang mendengar komentar Dea pun langsung tertawa ngakak. Dan sebelum Maya mati karena tersedak, Dea langsung menyuruhnya diam.

“Beneran nggak mo nyicip De??” tanya Maya ketika makanan di piringnya hampir habis.

“Nggak ah. Sambal buatan ibu tuh pedes banget, nggak berani aku makannya,” Dea ingat ketika bulan lalu dia nekat nyoba makan sambal buatan ibunya Maya, malamnya dia langsung diare. Perut Dea memang tak kuat dengan sambal, itulah kenapa meskipun Dea sempat menelan ludah melihat Maya makan, tapi dia tetap tidak berani untuk mencoba.

“Kamu itu ya, sambal nggak suka, kerupuk jengkol nggak doyan. Padahal ya, makanan ini tuh lebih enak daripada apa tuh namanya makanan dewa-dewa zaman dulu. Amborsi, aborsi, apalah itu namanya,” Maya berceloteh panjang lebar sambil melahap kerupuk jengkol terakhirnya.

“Ambrosia, Maya.” Dea membetulkan istilah Dea.

“Nah iya itu, ambrosia. Pokoknya mah, makanan ini nih lebih dari sekedar ambrosia De.”

“Tapi makanan itu nggak bikin abadi kayak ambrosia May,”

“Emang kamu mau hidup abadi sendirian??”

“Nggak.”

Maya dan Dea pun tertawa bersama, dan langsung menyudahi perdebatan yang baru saja terjadi.

“Eh De, ada arem-arem tuh di atas kulkas. Tadi pagi ibu beli di pasar, enak lho,” tawar Maya sambil mencuci tangan.

“Isinya apa May??” tanya Dea lagi sambil berjalan ke arah kulkas.

“Biasa, kentang, wortel sama ayam. Enak kok, nyesel kalo kamu nggak makan. Aku aja tadi udah habis 3.”

Mendengar jawaban Maya, mendadak Dea langsung lapar. Ketika arem-arem sudah berada ditangan, Dea langsung membukanya. Dan tepat ketika arem-arem berhasil masuk ke mulut Dea, tawa Maya pun langsung pecah. Dea lupa, kalo arem-arem yang biasa di beli oleh ibunya Maya adalah arem-arem yang pedas.

“MAYAAAA…!!”

Word count: 594.

=====================================================

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

*91’91*

110 thoughts on “Lebih Dari Sekedar Ambrosia

  1. hahahaha …. jadi pengen teriak juga … MAYAAAAA ….. mana lagi cabenya? hihihi … eh yang komen di sini, dikasi kiriman arem2 dong Dhe, biar manteb gituh hiihhi *pamrih*

    sukses kontesnya ya Dhe

  2. Aku juga nggak suka arem-arem pedes. Ketauan deh, Dhe lagi cerita tentang aku, kan? Namanya aja diplesetin dikit doang tuh, Della -Dea, ihihihihihihihhihi..

  3. Sambal pedas emang enak banget. Cocok kalau buat nambah nafsu makan. Tapi kalau jengkol, apapun bentuknya. Sudah menjadi krupuk kah, tetep ane nggak terlalu suka. Baunya itu lho, tapi kalau terdesak, doyan juga sih. Wkwkwkwk

  4. Membaca postingan ini membuat rasa ‘lapar’ tersendiri, sekaligus pedasnya sambal yang sangat menggiurkan lidah dan ingin menambah, menambah, lalu menambah lagi. Tambah lagi postinganmu Mbak Dhenok. Postingan yang ini mantap.

    Salam,🙂

  5. kerupuk jengkol hihihi…memang di palembang ada juga yach kerupuk jengkol….aku dulu doyan banget sm kerupuk ini…tp skrang ini udah jarang yg jual…makanya ngga pernah makan lagi…jd kangen

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s