Kotak Musik Bhirawa

Kotak musik yang sudah terkunci puluhan tahun itu kembali terbuka, mengeluarkan nada-nada cinta yang sudah hampir terlupa olehku. Ntah setan apa yang sedang merasukiku senja ini, merayu tubuh sang tua renta untuk kembali mengingat kenangan cinta yang tak pernah berhasil dilupakannya. Tubuhku mendadak beku, tanganku memegang kokoh kotak musik itu, dan mataku menatap tajam pada tumpukan surat yang masih utuh tersusun menjadi satu. “Apa kabarmu, Kapten Bhirawa??” tanya yang terlontar begitu saja dari suara serakku.

Aku ingat saat itu, saat kami masih sama-sama menjadi mahasiswa hukum di salah satu universitas negeri di Surabaya. Adu pendapat yang selalu saja terjadi setiap kami berdiskusi, menjadi awal pembuka kisah cinta yang sama sekali tak terduga. Dia memiliki fisik yang sempurna, tubuh tinggi, rambut hitam, alis tebal, hidung mancung, senyum yang manis, badan yang kokoh tegap berdiri, semua terbalut indah pada kulit sawo matangnya. Bukan hanya fisik, dia pun memiliki kepribadian yang selalu membuatku terpesona. Ah, mungkin aku akan menghabiskan beribu-ribu paragraf untuk menceritakan betapa sempurnanya dia.

Sama sekali tak pernah terbayangkan, kalau aku dan dia akhirnya bersatu menjadi sepasang kekasih. Hubungan kami pun berjalan dengan sangat harmonis, meskipun perdebatan setiap kami berdiskusi masih selalu saja terjadi. Hingga akhirnya tepat ketika kami memasuki semester 5, dia mengabarkanku bahwa dia berhasil masuk ke akademi militer yang selama ini dia idam-idamkan. Bahagia?? Tentu saja, aku bahagia saat itu. Kuberikan pelukan hangat dan puluhan ucapan selamat kepadanya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan meninggalkanku, meninggalkan cinta kami sedang merekah indah. Tahun pertama tidaklah terlalu sulit, aku masih menikmati status pacaran jarak jauh dengannya. Dia pun masih rajin mengirimkan surat cinta untukku, sebulan sekali. Tapi sayangnya, kisah cinta kami hanya bertahan hingga tahun pertama kepergiannya. Ya, hanya tahun pertama. Karena setelah itu, Bhirawa mendadak hilang dari hidupku.

Mataku terasa panas, butiran air mata yang sengaja kutahan akhirnya jatuh membasahi kulit wajahku yang semakin keriput. Tanganku yang semula kaku, sekarang bergetar hebat menahan kotak musik klasik pemberiannya yang hampir jatuh. Senandung cinta yang terdengar merdu dari kotak musik ini, menambah pilu atas luka yang masih kurasa. Bertahun-tahun aku menunggunya, selalu menyebut namanya dalam doaku, dan tak pernah bosan meminta Tuhan untuk segera mengembalikannya ke pelukanku. Tapi ternyata, dia tak pernah kembali. Hingga akhirnya, kotak musik ini dan sebuah ucapan selamat didalamnya menjadi penghias air mata pengantinku kala itu.

Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest: Senandung Cinta

*91’91*

26 thoughts on “Kotak Musik Bhirawa

  1. Ceritanya keren nih, terbawa suasanya😀
    Jadi sepertinya cinta gak terbalas gitu ya?😀
    Tapi gak papa nggak dapet Kapten Bhirawa, toh masih ada Kapten Bhirowo😆
    Sukses buat kontesnya🙂

  2. emang Kapten Bhirawa kemana sih? koq sampe gak ngasih kabar lagi, malah kasih kotak musik dan ucapan selamat?? heheheh

    *aku juga kemarin ikutan lohh, di blog yg satu😀

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s