Surat untuk Stiletto Book

Dear Stilo,

Bagaimana kabarmu malam ini?? Mungkin kamu akan sedikit mengerutkan dahi ketika membaca surat ini. Bagaimana tidak, kamu mendapatkan surat dari seseorang yang namanya saja mungkin sangat asing untuk kamu. Tapi tak apa, anggap saja saya adalah salah satu penggemarmu. Karena itu, teruslah membaca surat ini sampai selesai ya.

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengenal nama kamu, Stiletto Book, sekitar tahun 2012. Waktu itu saya sempat ikut serta meramaikan kontes yang kamu selenggarakan untuk serial A Cup of Tea Menggapai Mimpi, dan tidak lolos. Namanya juga kontes, kalah menang itu biasa. Tapi meskipun saya tidak lolos, saya tak langsung mengabaikan kamu. Saya tetap sering memperhatikanmu, menjadi saksi atas karya-karya terbarumu. Hanya saja, ntah kenapa sampai 1 tahun pertama saya mengenal kamu, saya sama sekali belum tertarik untuk membeli 1 pun karyamu. Mungkin karena saya termasuk tipe orang yang susah untuk jatuh cinta, termasuk jatuh cinta dengan buku. #eh๐Ÿ˜€

Hingga akhirnya di penghujung tahun 2013, untuk pertama kalinya saya penasaran juga dengan salah satu buku terbarumu saat itu, Seribu Kerinduan. Covernya menarik, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan ketika kamu tengah mempromosikan novel tersebut di twitter, saya semakin penasaran bagaimana alur ceritanya. Mungkin karena terbawa suasana hati, makanya saya merasa kalau novel itu cocok untuk saya baca. Karena itu, saya antusias banget waktu kamu bikin promo #StilettoShockingSale. Karena isi paket novel romance yang kamu jual, benar-benar susah untuk ditolak. Kamu pintar sekali merayu.

stiletto book

Koleksi buku Stilo saya๐Ÿ˜‰

Stilo, surat ini saya tulis setelah saya selesai membaca novel Seribu Kerinduan. Tak butuh waktu lama, saya hanya menghabiskan 3 jam saja untuk melumat habis seluruh isi novel tersebut. Dan hasilnya, saya menjadi galau sekarang. Kenapa harus Jogjakarta?? Kota itu menyimpan banyak kenangan untuk saya, dan novel itu sukses membuat saya mengingat seluruh kenangan saya dengan Jogja. Pantai Indrayanti, bukit bintang, pekatnya malam di gunung kidul, keraton, semuanya. Sebenarnya novel itu tidak terlalu sedih, hanya saja kak Dewi terlalu piawai merangkai kata, saya sangat terbawa suasana dan ikut larut menjadi tokoh Renata.

Terimakasih, karena novel itu sudah membuat saya kembali mengingat seseorang. Tapi tenang saja, saya tidak akan menggila seperti Renata ketika tengah merindukan Panji. Mungkin hanya meneteskan beberapa tetes air mata saja. Rindu itu selalu susah untuk ditahan, bukan? Dan saya, saya selalu melampiaskan rindu dengan menangis. Memang konyol, tapi setidaknya dengan begitu saya akan sedikit lega. Terimakasih Stilo, terimakasih karena sudah membuat saya kembali menangis malam ini.

Stilo sayang, teruslah tumbuh dan berkembang. Saya percaya kalau kamu pasti akan jadi penerbit yang jauh lebih besar dari sekarang. Hanya saja, sepertinya kamu harus lebih bekerja keras dalam mendesain cover buku-bukumu. Bukan, bukan ingin bilang kalo desain covermu jelek. Tapi percaya atau tidak, judge a book from the cover atau love at the first sight itu masih berlaku untuk kami para pembaca. Karena dengan cover yang menarik, pasti akan membuat kami menjadi lebih tertarik untuk membeli dan membaca karyamu. Ini cuma saran saya saja lho, Stilo.

Dan terakhir, matur nuwun karena kamu masih terus membaca surat ini. Semoga surat ini membuat kita menjadi semakin saling mengenal. Masih ada 3 novel lagi yang belum saya baca, dan itu berarti cerita saya tentang kamu masih belum selesai. Tapi untuk surat saya kali ini, cukup sekian dulu ya. Selamat malam, Stilo. Oyasuminasai… ^_^

With Love,
Dhenok Habibie | dhenok02[at]gmail[dot]com

Aku ingin melupakan semua kesunyian malam ini, itulah sebabnya aku menulis, agar aku bisa mengubah senyap menjadi rindu, gelap menjadi kenangan, dan beku menjadi cinta. Kemudian ketika aku berada di ujung pagi dan telah bosan mengisahkan semuanya, aku bisa segera tidur lelap dan terbangun dengan mimpi-mimpi yang baru. (Seribu Kerinduan – Herlina P. Dewi)

*91’91*

16 thoughts on “Surat untuk Stiletto Book

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s