#96. Sudah Islamkah Kita?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah dengan Rahmat-Nya akhirnya aku bisa berkontribusi diblognya Dhenok Habibie, sebuah kehormatan bisa menjadi penulis tamu disini, walau sebetulnya masih belum pantas disandingkan dengan tulisan-tulisan yang lain, tapi saya berharap tulisan sederhana ini tetap ada manfaatnya.

Sudah Islamkah kita..? mungkin judulnya agak aneh tapi itulah realita dalam kehidupan umat islam, begitu banyak orang yang menganggap dirinya sebagai muslim, dengan percaya diri mengaku dirinya sebagai umat Rasulullah, tapi benarkah kita sudah pantas menjadi seorang muslim? bagaimana seharusnya seorang muslim? sudah puaskah kita dengan kondisi muslim yang sekarang..?

Sesungguhnya seorang muslim yang baik adalah yang berusaha memahami ajaran agamanya dengan baik dan benar sesuai dengan syariat Allah, “BAIK” dalam pengertian ikhlas menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya Tuhan yang layak di sembah dan satu-satunya tempat bergantung serta menerima segala ketentuan takdir-Nya. “BENAR” dalam pengertian mengikuti Risalah yang diajarkan Rasulullah serta menjadikan beliau sebagi tauladan yang baik, seorang muslim harus selalu bergerak aktif, bersemangat menjalankan dakwah serta menyebarkan kebaikan tanpa menunggu dorongan dari siapapun melainkan dari hati nurani sendiri untuk mengajak orang lain kepada kebenaran dengan tulus ikhlas hanya mengharap pahala yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla, seorang muslim yang baik haruslah memberikan manfaat pada orang lain berusaha menghindari hal-hal berdampak menyakitkan orang lain, karena Islam menghendaki seorang muslim adalah sebagai pribadi yang berhias akhlak mulia, menjadi unsur yang membangun, dinamis, cerdas serta tidak melewatkan waktu berlalu tanpa memberi manfaat dan kebaikan yang dapat mendatangkan keberuntungan, karena sesungguhnya umat muslim adalah umat dakwah dan risalah, bukan umat yang egois hanya mementingkan pribadi, memonopoli kebenaran hidayah untuk diri sendiri tanpa mau menyebarkan kepada sesamanya, karena dakwah adalah suatu kewajiban atas kaum muslimin secara keseluruhan.

sebagaimana difirmankan oleh Allah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

“Dan berbuat baiklah supaya kalian mendapat kemenangan.” (QS Al-Haj: 77)

Seorang muslim tidak cukup hanya tinggal dirumahnya sementara iblis berkeliaran bebas kemana-mana, para thaghut bertebaran membuat kerusakan, seorang muslim tidak hanya cukup membaca “Hawqalah” (lahawla walaquwata illabillah), tidak cukup hanya membaca Istirja’ (innalillahiwainnailaihirojiun) atau hanya memperbanyak tasbih dan tahlil, tetapi Islam mewajibkan bagi kaum muslimin untuk beramar ma’ruf nahi munkar suatu ibadah yang memberi andil besar dalam memberantas kejahatan dan kemungkaran, jika tidak mampu untuk itu minimal tidak membuat kejahatan yang meresahkan dan menyusahkan saudara semuslim sehingga orang lain merasa damai, aman dan tentram karena kehadirannya.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah :71)

“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).

Seorang Muslim hatinya harus hidup dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pandangannya selalu terbuka serta perhatiannya selalu tertuju pada ciptaan Allah Azza wa Jalla, serta berkeyakinan bahwa hanya Dialah yang Maha Besar dengan kekuasaan yang tiada batas, sehingga menumbuhkan rasa keimanan dan tawakal kepada-Nya

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191)

Seorang muslim adalah pemimpin dan harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya, serta bersikap amanah tidak berpihak pada siapapun kecuali pada kebenaran

“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya.” (HR Bukhari)

Seorang muslim harus menyegerakan bertaubat, terkadang diri kita dihinggapi kelalaian bahkan sampai terperosok kedalam jurang kesesatan, sehingga menyebabkan hilangnya ketaatannya kepada Allah dan Rasulnya, maka seorang yang baik harus segera menyadari atas kesalahannya serta segera memohon ampunan kepada-Nya

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al A’raaf: 201)

Ini hanya sedikit yang saya tulis dari kewajiban seorang muslim, tapi dari yang sedikit ini masih banyak yang belum kita jalankan, masih banyak yang kita lupakan, maka dari tulisan ini saya mengajak saudaraku seiman untu selalu merenung dan mengoreksi diri, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu sampai kapan kita mempunyai kesempatan untuk bermusahabah, mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menebar kebaikan di buminya Allah ini, semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insan Robbani

22 thoughts on “#96. Sudah Islamkah Kita?

  1. Alhamdulillah, terima kasih atas pencerahanya.

    tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal untuk kalimat yang saya cofy faste ini

    “jika tidak mampu untuk itu minimal tidak membuat kejahatan yang meresahkan dan menyusahkan saudara semuslim sehingga orang lain merasa damai, aman dan tentram karena kehadirannya”.

    saya garis bawahi “saudara semuslim”.
    kalau kalimat itu di baca dengan utuh saya mengartikan kita boleh meresahkan dan menyusahkan orang di luar muslim.

    tolong di koreksi jika saya salah mengartikan kalimat di atas, maklum saya seorang awam. karena tulisan ini tentang agama. salah mengartikan akan berdampak pada perilaku dan perbuatan yang di dasarkan pada keyakinan..

    • Terimakasih atas koreksinya
      yang saya maksud disini adalah lbh mengkhususkan kpd saudara semuslim, bukan berarti kita boleh mendzalimi non muslim tanpa alasan yg jelas secara syar’i, selama mereka tdk memerangi muslim dan mau bekerja sama maka dilarang diperangi

  2. Assalamu’alaikum,,,,
    Salam kenal Mbak Dhe…

    Maaf, itu paragraf terakhir koq ada kata berMUSAHABAH… setahu saya sih MUHASABAH(intospeksi) dari kata hisab (hitung)… atau ada makna lain ya ^.^a. Makasih…

    • memang betul Musahabah berasal dari kata hisab, artinya menghitung, jadi maksudnya hundaklah kita menghitung-hitung amat baik dan buruk kita setiap hari, setiap bulan, setiap tahun…,bahkan akan lebih baik bila setiap saat utk menghitung amal

      • Ooww, maksud saya, apa tetep bermakna sama antara muSAHABah dengan muHASABah,,, koq. Makasih….

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s